Alasan Mengapa Pola Jersey Timnas Kroasia itu Papan Catur Merah Putih, Ada Sejarah Bangsa Dibaliknya

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 7 Juni 2025 | 12:27 WIB
Timnas Kroasia saat tampil di final Piala Dunia 2018 dengan jersey pola catur kebanggaannya (wikipedia)
Timnas Kroasia saat tampil di final Piala Dunia 2018 dengan jersey pola catur kebanggaannya (wikipedia)

KLIK SAJA - Ketika gelaran Piala Eropa tahun 1996 di Inggris, ada satu negara debutan yang mencuri perhatian saat itu, yaitu: Kroasia.

Bukan prestasinya yang berhasil lolos ke perempatfinal, atau menggilanya striker legendarisnya, Davor Suker, tetapi pola jerseynya yang unik.

Bagaimana tidak, tim pecahan Yugoslavia era 90an ini, menggunakan motif jersey yang tak biasa, yaitu pola ‘papan catur merah putih’.

Pola jersey unik ini semakin mendunia karena prestasi gemilang timnas Kroasia di gelaran Piala Dunia 1998 yang mencapai semifinal dan runner up di edisi 2018.

Lantas, apakah ada latar belakang di balik pemilihan pola jersey unik ini.

Motif papan catur merah putih ini ternyata memiliki nilai arti sejarah tersendiri bagi bangsa Kroasia.

Sejarah di Balik Motif Papan Catur Kroasia

Papan catur Kroasia atau checky, sementara dalam bahasa Kroasia disebut šahovnica merupakan simbol nasional Kroasia dan bangsa Kroat.

Motif ini mendominasi perisai utama pada lambang negara Kroasia, di atasnya terdapat mahkota yang terdiri dari lima perisai kecil.

Pola kotak-kotak ini selalu disusun dengan benar dalam warna merah dan putih, meskipun urutan warnanya telah mengalami variasi sepanjang sejarah.

Menurut salah satu legenda, Raja Kroasia Stjepan Držislav pernah ditawan oleh bangsa Venesia, namun kemudian menantang Doge Pietro II Orseolo dalam pertandingan catur untuk memperoleh kebebasannya.

Ia memenangkan ketiga pertandingan tersebut, dan dalam beberapa versi cerita, ia bahkan memenangkan kendali atas kota-kota di Dalmatia.

Sebagai bentuk peringatan atas kemenangan tersebut, sang raja konon memasukkan motif papan catur ke dalam lambangnya.

Namun, catatan paling awal dari kisah ini ditulis jauh setelah peristiwa tersebut terjadi, dalam konteks sastra romantik pembentukan identitas bangsa, sehingga kisah ini tidak dapat dianggap sebagai fakta sejarah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X