KLIK SAJA - Memasuki pekan-pekan krusial di penghujung musim Serie A, laga antara Venezia dan AC Milan di Stadio Pier Luigi Penzo, Minggu mendatang, menjadi sorotan.
Di satu sisi, Milan datang dengan semangat membara usai menang meyakinkan atas Inter Milan di semifinal Coppa Italia.
Sementara itu, Jay Idzes dan rekan-rekannya di Venezia tengah berjuang mati-matian keluar dari jurang degradasi.
AC Milan baru saja memastikan tempat di final Coppa Italia setelah mengakhiri dominasi Inter dalam Derby della Madonnina dengan agregat 4-1.
Kemenangan 3-0 di leg kedua berkat kontribusi Luka Jovic dan Tijjani Reijnders menjadi penanda bahwa Rossoneri masih memiliki semangat juang tinggi meski tampil inkonsisten di liga.
Namun, dengan hanya lima pertandingan tersisa dan ketertinggalan lima poin dari zona Eropa, kompetisi domestik tak boleh diabaikan oleh tim asuhan Sergio Conceicao.
Sementara itu, Venezia justru menjadi salah satu kisah kejutan di paruh kedua musim.
Setelah sempat dianggap ‘mati suri’ pada Februari, tim besutan Eusebio Di Francesco hanya kalah sekali dari delapan laga terakhirnya.
Meski enam di antaranya berakhir imbang, upaya keras mereka berhasil membawa Venezia hanya terpaut satu poin dari zona aman.
Pemain seperti Jay Idzes menjadi figur penting di lini belakang, memimpin tim dengan determinasi tinggi, meski tantangan yang dihadapi tidak ringan.
Masalah terbesar Venezia adalah ketidakmampuan mempertahankan keunggulan, terbukti dari rekor kehilangan 28 poin dari posisi memimpin – terbanyak di Serie A musim ini.
Bahkan, hasil imbang melawan Empoli pekan lalu menjadi bukti betapa rapuhnya mereka di menit-menit akhir.
Menghadapi Milan yang sedang dalam tren positif dan memiliki materi pemain unggul seperti Rafael Leao, Christian Pulisic, dan Mike Maignan di bawah mistar, tuan rumah membutuhkan lebih dari sekadar semangat.
Terlebih lagi, Venezia punya rekor buruk melawan Rossoneri: empat kekalahan beruntun dan kebobolan 13 gol sejak 2021.