Berdasarkan kalimat yang terucap dalam video tersebut, sebenarnya bukan ujug-ujug Coote menghina Liverpool dan Jurgen Kloop. Adalah memorinya pada laga Liverpool vs Burnley yang berakhir imbang 1-1 pada tahun 2020 yang membuatnya "dendam". Coote mengklaim bahwa seusai pertandingan, ia mendapatkan hinaan yang tajam dari Klopp dan beberapa pemain Liverpool. Menurutnya, Klopp telah melontarkan kata-kata kasar dan tidak sopan kepadanya.
Dalam rilis situs resmi Liverpool, Andy Robertson yang menjadi subyek kontroversi di laga terutup tahun 2020 tersebut pun buka mulut. Ia mengklaim bahwa sudah selayaknya para pemain Liverpool marah pada Coote yang tidak memberikan tendangan penalti saat dirinya dijatuhkan pemain Burnley.
Insidennya, pada menit ke-83 , Robertson mencoba untuk mendapatkan bola liar di kotak penalti Clarets. Johann Gudmundsson dari Burnley berhasil menghalau bola liar tersebut tetapi menjatuhkan bek The Reds asal Skotlandia dalam prosesnya. Coote sama sekali tidak bergeming oleh permintaan penalti tersebut dan permainan tetap berlanjut.
Robertson mendatangi wasit saat pertandingan berakhir dan tidak berbasa-basi saat menyampaikan pendapatnya tentang keputusan tendangan penalti. "Bagaimana itu bukan penalti adalah aib," katanya.
Menjadi semakin viral, sebab disinyalir beberapa pendukung The Reds membuat daftar dosa David Coote, termasuk saat ia memimpin laga Liverpool versus Aston Villa. Ya, wasit 42 itulah yang memimpin laga di tanggal 10 November lalu!
Dampak Skandal Terhadap Kredibilitas Premier League
Skandal yang melibatkan David Coote ini tentu saja memberikan dampak negatif terhadap kredibilitas Premier League. Kepercayaan publik terhadap kualitas pengadil di kompetisi kasta tertinggi Inggris ini menjadi taruhannya.
Para penggemar sepak bola khawatir bahwa kejadian ini bisa menjadi preseden buruk dan membuka tabir buruk di balik layar sepak bola Inggris. Mereka mempertanyakan apakah masih ada wasit lain yang melakukan tindakan serupa namun belum terungkap.
Sanksi yang diberikan oleh PGMOL terhadap Coote tentu sudah tepat. Ini merupakan langkah tegas untuk memberikan efek jera dan menjaga citra bersih Premier League. Namun, masalah ini tidak bisa dianggap selesai begitu saja.
Pihak berwenang perlu melakukan investigasi yang menyeluruh untuk mengungkap semua fakta yang ada. Jika memang terbukti bersalah, Coote harus diberikan sanksi yang setimpal. Jika terbukti AI? Sepertinya seluruh dunia harus waspada!
Selain itu, PGMOL juga perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan terhadap para wasit. Kepercayaan publik terhadap wasit adalah hal yang sangat penting dalam sepak bola. Jika kepercayaan ini hilang, maka akan sulit bagi sepak bola untuk berkembang dengan baik.
Artikel Terkait
Prediksi Tigre vs Defensa y Justicia, Sejarah Berpihak Pada Tim Tamu
Ivan Juric Dipecat AS Roma Padahal Belum Sampai Dua Bulan Bekerja, Ngebet Kejar Mancini?
Prediksi Argentinos Juniors vs Banfield, Persaingan Sengit di Papan Bawah
Anthony Davis dan LeBron James Terlalu Tangguh, Lakers Berhasil Jinakkan Raptors
Pietro Comuzzo, Benteng Pertahanan Tangguh Fiorentina dan Jaminan Masa Depan Catenaccio
3 Alasan Kuat Ruben Amorim Tidak Memakai Jasa Ruud van Nistelrooy Sebagai Asistennya