KLIK SAJA - Tragedi banjir bandang dan tanah longsor di Sumut pada akhir November 2025 menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
BNPB mencatat 338 jiwa meninggal, angka yang langsung membuat publik terpukul dan bertanya-tanya soal kondisi cuaca ekstrem di wilayah itu.
Sebanyak 18 kabupaten terdampak, dari daerah pesisir hingga dataran tinggi yang sebelumnya tidak pernah mengalami banjir besar.
Infrastruktur publik tersendat, akses logistik menipis, dan sejumlah titik masih tertutup material longsor.
Baca Juga: 17 Meninggal dan Puluhan Terjebak, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Kebakaran Gedung Terra Drone?
Di beberapa lokasi, warga harus berjalan jauh untuk mencari sumber air bersih dan bantuan darurat.
Banyak relawan menyebut situasinya sebagai “bencana berlapis” karena terjadi serentak di banyak titik.
Dari laporan di lapangan, warga berharap pemerintah mempercepat penanganan karena ancaman cuaca ekstrem masih membayangi.
Puluhan Ribu Warga Mengungsi, Tiga Daerah Jadi Pusat Evakuasi Terbesar
BNPB merinci lonjakan pengungsi yang terjadi sejak hari pertama bencana, dengan tiga wilayah mencatat angka tertinggi.
“Tapanuli Tengah sebanyak 18,3 ribu, Langkat sebanyak 11,1 ribu, hingga Humbang Hasundutan sebanyak 2,2 ribu,” tulis BNPB dalam laporan resminya.
Angka ini menggambarkan betapa luasnya wilayah yang terdampak dan betapa beratnya kondisi pemulihan yang harus dilakukan.
Banyak dari mereka kini tinggal di tenda darurat dengan fasilitas terbatas, termasuk dapur umum yang hanya mampu memasok kebutuhan dasar.