Dengan keterlibatan banyak pihak, KKMP Tukangkayu langsung terlihat sebagai proyek serius, bukan eksperimen kecil.
UMKM merasa diperhatikan, karena sejak awal mereka dilibatkan dalam rantai pasok dan pemasaran.
Kolaborasi ini memungkinkan koperasi menjadi ruang bisnis yang inklusif, tidak eksklusif hanya bagi anggotanya.
Digitalisasi melalui Aplikasi Jaga Desa Jadi Tulang Punggung Transparansi
Dalam sambutannya, Menkop Ferry menegaskan bahwa digitalisasi menjadi aspek krusial dalam pengembangan koperasi masa kini.
Aplikasi Jaga Desa disebut sebagai kunci untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan usaha koperasi.
Dengan digitalisasi, seluruh aktivitas mulai dari gerai sembako, apotek, klinik, gudang, hingga lembaga keuangan mikro bisa dikelola secara otomatis dan terdokumentasi.
Hal ini memperkuat kepercayaan publik, terutama masyarakat kelurahan yang selama ini kerap ragu dengan manajemen koperasi tradisional.
Menkop Ferry juga menyebut bahwa koperasi harus menjadi ruang bisnis yang adil bagi warga, di mana keuntungan kembali kepada anggota dan bukan ke pihak luar.
Pendekatan digital ini memperlihatkan bahwa koperasi bisa bersaing layaknya retail modern tetapi tetap berbasis gotong royong.
Kehadiran konsep modern ini membuat KKMP Tukangkayu tampak seperti versi kecil dari minimarket profesional dengan sentuhan sosial.
Baca Juga: Aturan Usia Medsos Diperketat, PSE Kini Bisa Disanksi Jika Kebobolan Pengguna Anak di Bawah Umur
KKMP Tukangkayu Hadirkan Gerai Sembako Harga Grosir plus Cashback hingga 30 Persen
Ketua KKMP Tukangkayu, Imam Maskun, menjelaskan bahwa koperasi hadir untuk memaksimalkan potensi kelurahan yang memiliki banyak UMKM dan toko kelontong.