Ini menjadi langkah inovatif yang jarang dilakukan dalam penanganan bencana sebelumnya.
5. Helikopter Medis Tidak Membawa Logistik, Hanya Fokus Periksa Warga
Ketiga helikopter tersebut tidak dibebani distribusi logistik agar fokus bekerja sebagai tim medis. Sjafrie menegaskan,
“Dia tidak dibebani pendistribusian logistik, tapi dia khusus untuk keliling ke tempat pengungsi, lakukan pemeriksaan.”
Baca Juga: Indonesia Negara Paling Dermawan? Penanganan Bencana Sumatera Jadi Bukti Nyata di Lapangan
Pembagian tugas yang jelas membuat proses penanganan bisa lebih efisien.
Para tenaga medis dapat langsung melakukan diagnosis tanpa terhambat urusan distribusi barang.
Langkah ini juga menjadikan pengungsi di titik-titik terpencil bisa mendapat pemeriksaan rutin.
Pemeriksaan berkala diharapkan dapat mendeteksi lebih cepat gejala penyakit pascabanjir.
Dengan begitu, potensi wabah bisa ditekan sejak awal sebelum menyebar luas.
6. Kolaborasi dengan Kemenkes untuk Tenaga Dokter
Sjafrie menyampaikan bahwa kementeriannya telah menyiapkan awak helikopter, namun tetap membutuhkan dokter tambahan dari Kemenkes.
Baca Juga: Bahlil Sebut Izin Tambang Bisa Dicabut jika Terbukti Merusak Lingkungan di Sumatera
“Kami siakan ini termasuk awaknya, kami harapkan bantuan dari Menteri Kesehatan kalau ada dokter yang membantu, dia yang akan turun ke tempat-tempat pengungsi untuk pemeriksaan kesehatan sekaligus pengobatan.” Katanya.
Kolaborasi ini menjadi kunci agar pelayanan kesehatan dapat dilakukan secara maksimal. Pemeriksaan di lapangan membutuhkan dokter dengan kompetensi khusus terkait penyakit pascabanjir.