Keterlibatan Yayasan Kiara Artha Park dan Sekemala Integrated (SEIN) dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa program hijau perlu dibangun bersama komunitas.
Kolaborasi ini mempermudah proses distribusi bibit sekaligus memastikan tanaman benar-benar dirawat hingga tumbuh besar.
Dengan menggandeng komunitas, BRI mengubah program lingkungan menjadi kegiatan sosial yang membangun rasa kebersamaan.
Kolaborasi ini juga menciptakan dukungan jangka panjang karena masyarakat ikut menentukan keberhasilan program.
Baca Juga: Saat Media Berusaha Tetap Bernafas, Apa Saja yang Dibedah di Seminar Nasional MSF 2025?
Ketika warga memiliki peran, pohon yang ditanam tidak menjadi proyek semata, melainkan warisan kolektif.
Pendekatan ini membuat program mampu hidup lebih lama dan melahirkan dampak nyata.
Pada akhirnya, keberlanjutan hanya bisa tercapai jika melibatkan banyak tangan yang mau bekerja. Itulah yang ingin dikuatkan BRI melalui inisiatif berbasis kolaborasi ini.
Penanaman Pohon sebagai Respons Nyata terhadap Krisis Iklim
SEVP Ultra Mikro BRI, M. Candra Utama, menegaskan bahwa aksi ini adalah tanggapan nyata terhadap perubahan iklim yang makin terasa dampaknya.
Penanaman pohon produktif dan keras bukan sekadar simbolis, tetapi langkah strategis untuk memulihkan ekosistem yang menurun.
Ia menekankan bahwa program TJSL BRI mengedepankan pendekatan kolaboratif yang menghubungkan aspek lingkungan dan sosial.
Dengan cara itu, dampak keberlanjutan bisa mengakar kuat dan menjadi gerakan bersama.
Penanaman ini juga menjadi ajakan terbuka bagi publik untuk ikut menjaga sumber daya alam.