Kesadaran kolektif ini penting mengingat ledakan di SMAN 72 adalah alarm keras bagi semua pihak.
Ketika sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat saling peduli, potensi ekstremisme bisa ditekan sejak dini.
Di titik itu, pencegahan bukan lagi program, tetapi budaya.
Pembentukan Satgas Masih Menunggu Arahan Presiden Prabowo
Wacana pembentukan satgas khusus pencegahan ekstremisme di sekolah mulai muncul setelah insiden SMAN 72.
Namun, Gus Ipul menyebut bahwa langkah itu masih menunggu arahan Presiden Prabowo.
Ia menjelaskan bahwa presiden sudah memberi perhatian serius dan menugaskan Kemenko Polkam untuk menyusun langkah pencegahan.
“Presiden memiliki atensi yang sungguh-sungguh terhadap kejadian kemarin itu,” jelasnya.
Artinya, pemerintah ingin memastikan kebijakan yang diambil tidak terburu-buru tetapi tetap tegas.
Jika satgas ini terbentuk, ia diharapkan menjadi garda awal pencegah kejadian serupa di masa depan.
Momentum inilah yang ingin dijaga pemerintah agar tidak sekadar reaktif.
Baca Juga: Operasi Beruntun Polda Metro Jaya Buka Tabir Pakaian Bekas Impor yang Masuk Lewat Jalur Gelap
Prabowo dan Mendikdasmen Soroti Serius Isu Bullying di Sekolah
Tak hanya soal ekstremisme, isu bullying kembali jadi sorotan setelah insiden ini menyeruak.