Oleh sebab itu, Amsori mendefinisikannya bukan sebagai kunjungan simbolis, melainkan perwujudan negara yang mau menunduk dan melihat warga mata ke mata. Inilah yang membuat gaya kepemimpinan Teddy terasa beda.
Ketika Pejabat Turun ke Akar Rumput, Kebijakan Jadi Lebih “Membumi”
Menurut Amsori, apa yang dilakukan Seskab Teddy adalah contoh birokrasi yang mengasuh, bukan sekadar mengatur.
Ketika pejabat tinggi turun ke permukiman rakyat, mereka otomatis masuk ke ruang pertanyaan, perasaan, dan masalah sehari-hari masyarakat.
“Ini bukan sekadar turun ke lapangan. Ini cara memanusiakan warga,” ujar Amsori.
Dari situ, pejabat bisa merumuskan kebijakan yang lebih realistis karena memahami kondisi langsung.
Amsori bahkan menegaskan bahwa pendekatan ini jauh lebih efektif dibanding hanya membaca laporan birokrasi dari balik meja.
Pemimpin yang terjun langsung cenderung melihat detail kecil yang tak tertangkap oleh laporan formal.
Strategi ini bisa menjadi fondasi kebijakan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dari Empati ke Legitimasi, Publik Semakin Mengenal Sosok Teddy
Amsori melihat bahwa kehadiran empatik Teddy perlahan menjadi investasi legitimasi pemerintah.
Survei Indikator Politik menunjukkan tingkat kesadaran publik terhadap dirinya sudah lebih dari 50 persen angka yang terbilang tinggi untuk posisi Sekretaris Kabinet.
“Kuncinya bukan pencitraan. Ini soal hadir dengan hati,” tegas Amsori.