KLIK SAJA - Seskab Teddy Indra Wijaya makin sering menjadi sorotan karena satu hal yang jarang dilakukan pejabat setingkat dirinya turun langsung dan menyapa masyarakat tanpa protokol yang kaku.
Banyak warga merasa kehadiran seorang pejabat tinggi di lingkungan mereka bukan sekadar simbolik, tetapi benar-benar membawa ruang dialog.
Pengamat politik Amsori Baharudin Syah menilai ini sebagai bentuk 'empathetic governance' model kepemimpinan publik yang menekankan kehadiran emosional, bukan hanya serangkaian tugas struktural.
“Apa yang dilakukan Teddy Indra Wijaya adalah bentuk dari pelayanan publik. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang mau mendengar,” kata Amsori.
Baca Juga: Dari Media Sosial hingga Istana, Rehabilitasi Dua Guru Akhirnya Diputuskan
Pendekatan ini membuat publik melihat ukuran baru tentang bagaimana negara bisa merangkul warganya.
Dalam lanskap birokrasi yang sering dianggap dingin, gaya Teddy menjadi angin segar.
Mendengar Aspirasi, Bukan Sekadar Mengunjungi
Amsori menilai langkah-langkah Teddy di lapangan bukan sekadar formalitas atau pengecekan proyek rutin.
“Teddy tidak hanya menyapa, tetapi mendengarkan aspirasi, keluhan, dan kebutuhan warganya,” ujarnya.
Interaksi yang ia lakukan justru membuat masyarakat merasa didengar secara langsung tanpa perantara birokrasi panjang.
Baca Juga: TRING! Dikeluhkan Pengguna Dari Error Luar Negeri sampai OTP Ngadat
Bagi pengamat politik itu, tindakan Teddy adalah praktik nyata kepemimpinan yang tulus dan aktif.
Dalam perspektif kebijakan publik, kedekatan semacam ini penting untuk memahami realitas di lapangan, bukan hanya angka di atas kertas.
Artikel Terkait
Bencana Longsor di Banjarnegara dan Cilacap! 179 Jiwa Mengungsi, Rumah Tertimbun Tanah
Modifikasi Cuaca Hingga Koordinasi Gubernur, Pencarian Korban Longsor Cilacap Tetap Dilakukan
Polisi Bongkar Gudang BBM Subsidi 42 Ton di Bangka Belitung, 5 Pelaku Terancam Hukuman Penjara
Kantin Dikunci dan Polisi Hadir, Begini Kronologi Skorsing Damar Setyaji yang Bikin Mahasiswa Geleng Kepala
Mulai 17–30 November Operasi Zebra Candi 2025, Siap-siap Kalau Masih Suka Melawan Arus!