nasional

Ternyata Bukan 17 Agustus! Rencana Tanggal Kemerdekaan Indonesia yang Diubah Sejarah

Senin, 18 Agustus 2025 | 04:57 WIB
Ternyata Bukan 17 Agustus! Rencana Tanggal Kemerdekaan Indonesia yang Diubah Sejarah (Potret sejarah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan Presiden ke-1 RI, Soekarno pada 17 Agustus 1945. (X.com/BoudewijnSteur))

KLIK SAJA - Setiap tahun, rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus.

Namun, tidak banyak yang tahu bahwa tanggal proklamasi kemerdekaan sebenarnya pernah direncanakan bukan pada tanggal tersebut.

Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Aboe Bakar Lubis dalam bukunya Kilas-Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku, dan Saksi, kemerdekaan Indonesia awalnya direncanakan untuk diproklamasikan pada 24 Agustus 1945.

Rencana ini muncul setelah pertemuan penting antara para tokoh bangsa dengan pihak Jepang di Dalat, Vietnam, pada 12 Agustus 1945.

Baca Juga: Ikuti Jejak Pati, Rakyat Bone Lakukan Aksi Demonstrasi Tolak Kenaikan PBB-P2 300 Persen

Pertemuan ini dihadiri oleh Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat.

Mereka bertemu dengan Marsekal Terauchi, Panglima Militer Jepang di Asia Tenggara. Di sana, sebuah kabar besar diungkapkan.

Terauchi menyampaikan, Jepang sudah berada di ambang kekalahan setelah hancurnya Hiroshima dan Nagasaki akibat bom atom Amerika Serikat. Kondisi itu membuat Jepang berjanji memberi kesempatan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

“Kapanpun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh dinyatakan,” kata Terauchi dalam pertemuan tersebut.

Ia bahkan menyarankan agar proklamasi dilakukan pada 24 Agustus 1945, dengan persiapan lanjutan dimulai sehari setelahnya.

Lalu, Soekarno dan rombongan sepakat dengan tawaran itu. Menurut catatan Aboe Bakar Lubis, kabar gembira ini segera disebarkan setibanya mereka di Tanah Air.

Baca Juga: Viral di Medsos, Keluarga Terpaksa Bawa Pulang Jenazah dengan Becak Motor karena Tak Mampu Bayar Ambulans

"Namun, situasi berubah cepat. Pada 14 Agustus 1945, Jepang resmi menyerah kepada Sekutu. Kabar tersebut memicu perpecahan di kalangan pergerakan nasional antara golongan tua dan golongan muda," tulis Aboe Bakar Lubis dalam bukunya.

Golongan muda, diwakili tokoh seperti Sutan Syahrir, Wikana, dan Chairul Saleh, mendesak agar proklamasi segera dilakukan tanpa menunggu arahan Jepang.

Halaman:

Tags

Terkini