Dari Game Online ke Doktrin Ekstrem, Polri Bongkar Modus Rekrutmen Anak di 23 Provinsi

photo author
- Rabu, 19 November 2025 | 05:26 WIB
Dari Game Online ke Doktrin Ekstrem, Polri Bongkar Modus Rekrutmen Anak di 23 Provinsi (Polisi mengungkap temuan baru soal rekrutmen jaringan terorisme yang menargetkan anak-anak melalui ruang digital. (Dok Polri))
Dari Game Online ke Doktrin Ekstrem, Polri Bongkar Modus Rekrutmen Anak di 23 Provinsi (Polisi mengungkap temuan baru soal rekrutmen jaringan terorisme yang menargetkan anak-anak melalui ruang digital. (Dok Polri))

Kasus ini membuka mata bahwa pencegahan bukan hanya tugas aparat, tapi juga keluarga dan komunitas sosial di sekitar anak.

Dua Tersangka Dewasa Ditangkap

Dua tersangka dewasa yang menjadi otak perekrutan berhasil ditangkap pada 17 November 2025.

“Penindakan terbaru dilakukan dengan menangkap dua tersangka dewasa yang berperan sebagai perekrut dan pengendali komunikasi kelompok,” kata Trunoyudo.

Baca Juga: Polisi Mulai Telusuri Dugaan Kekerasan Terhadap Siswa SMPN 19 Tangsel

Mereka berperan mengatur alur komunikasi, mengelompokkan anak sesuai tingkat “loyalitas”, dan memastikan doktrin terus mengalir dalam ruang digital.

Penangkapan ini menjadi bagian dari upaya sistematis memutus mata rantai rekrutmen sebelum lebih banyak anak terjerat.

Meskipun begitu, ancaman masih dianggap belum hilang karena pola rekrutmen digital mudah dibuat ulang.

Langkah-langkah ini menunjukkan perlunya pendekatan penanganan lebih dari sekadar penindakan edukasi dan pemahaman publik sama pentingnya.

Pemerintah Siapkan Penanganan Terpadu

Polri menegaskan bahwa penanganan kasus ini melibatkan lintas kementerian dan lembaga. Langkah ini diambil karena ancaman digital bersifat kompleks dan tak bisa diselesaikan oleh satu institusi saja.

Baca Juga: Turun ke Akar Rumput, Seskab Teddy Jadi Simbol Baru Birokrasi Humanis

Dari pendidikan, sosial, hingga komunikasi digital, setiap sektor memiliki peran dalam mencegah anak-anak masuk lebih jauh ke dalam lingkaran ekstremisme.

Narasi kekerasan yang disisipkan ke ruang online tidak mudah terdeteksi, sehingga kesadaran orang tua dan literasi digital anak menjadi benteng pertama.

Temuan Densus 88 ini menjadi pengingat bahwa terorisme tidak hanya bergerak di ruang fisik, tetapi juga di ruang paling privat, layar ponsel anak-anak.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dita Nilan Karlasari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X