Bashe menetapkan tebusan senilai 5 Bitcoin atau setara dengan Rp7,9 miliar.
Ransomware Janggal dan Grup Hacker Terkocak
Peristiwa ini menarik perhatian Teguh Aprianto, seorang ahli dan konsultan keamanan siber yang juga merupakan pendiri Ethical Hacker Indonesia.
Ketika mendengar isu tersebut, Teguh Aprianto merasa ada yang tidak beres.
Baca Juga: Bangkai Bayi Mammoth Berusia 50.000 Tahun Ditemukan di Siberia dalam Kondisi Utuh
Karena data yang diklaim tidak meyakinkan, ia memilih untuk tidak memberikan komentar pada awal munculnya isu ransomware ini.
Kecurigaan tersebut terbukti benar. Setelah batas waktu pembayaran tebusan berlalu, Teguh menemukan bahwa data ransomware yang dipublikasikan sebenarnya adalah data yang pernah beredar di internet.
“Setelah tenggat waktu berakhir, akhirnya pelaku merilis datanya. Isi datanya hanya satu file excel dengan 100 baris data yang cocok dengan salah satu dokumen di Scribd dan PDFCoffee. Mari kita beri tepuk tangan untuk Bashe, kelompok ransomware paling konyol sepanjang masa,” ungkap Teguh Aprianto melalui akun X resminya, @secgron pada Rabu, 25 Desember 2024.
Postingannya disertai dengan screenshot data yang dipublikasikan oleh Bashe. Ada juga screenshot data dari ScribD.
Baca Juga: Waspada! Gunung Semeru Kembali Erupsi
Klaim BRI telah menjadi korban Bashe Ransomware ini pun akhirnya dianggap tidak terjadi oleh masyarakat.
Itu karena nasabah BRI tetap dapat mengakses sistem operasional dan layanan perbankan BRI seperti mobile banking saat kabar serangan siber itu viral.***
Artikel Terkait
Bus Rombongan Pelajar Santriwati Kecelakaan di Tol Malang, 4 Tewas dan Puluhan Lainnya Alami Trauma
Polres Solo Soal Aduan Kasus Pemerkosaan Ibu dan Anak Mandek 7 Tahun di DPR: Sudah Selesai Secara Hukum
Ketika 88 Tas Mewah Sandra Dewi Juga Ikut Tersandera Kasus Korupsi Suaminya
Harvey Moeis Divonis 6,5 Tahun Penjara, Vonis Lebih Ringan dari Tuntutan JPU: Sopan dan Punya Tanggungan Keluarga
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto Sebut Qris dan E-Toll Tak Kena PPN 12%