KLIK SAJA - Semarang punya cara sendiri menyambut Idul Fitri.
Bukan sekadar soal ketupat dan opor, tapi tentang suasana yang pelan-pelan berubah sejak Ramadan memasuki sepuluh hari terakhir.
Jalanan makin ramai, pusat perbelanjaan makin hidup, dan aroma takjil seolah jadi penanda bahwa Lebaran sudah di depan mata.
Di kota ini, tradisi bukan cuma seremonial. Ia hidup, tumbuh, dan terus dirindukan.
Dugderan, Penanda Ramadan yang Tak Pernah Sepi
Kalau bicara tradisi jelang Lebaran di Semarang, rasanya tak lengkap tanpa menyebut Dugderan.
Tradisi ini sebenarnya digelar untuk menyambut Ramadan, tapi euforianya terasa hingga menjelang Idul Fitri.
Nama “Dugderan” berasal dari bunyi bedug (“dug”) dan meriam (“der”) yang menjadi simbol dimulainya bulan suci.
Biasanya dipusatkan di kawasan Masjid Agung Semarang (Kauman), acara ini identik dengan arak-arakan dan kemunculan Warak Ngendog—ikon budaya unik perpaduan Jawa, Arab, dan Tionghoa.
Menjelang Lebaran, memori tentang Dugderan seperti kembali diputar. Ia jadi pengingat bahwa Ramadan akan segera berpamitan.
War Takjil dan Pasar Ramadan yang Bikin Rindu
Masuk H-10 Lebaran, suasana sore di Semarang berubah total.