Mengetahui profil risiko kamu sangat penting agar tidak terjebak dalam investasi yang tidak sesuai dengan kemampuanmu.
Jika kamu tipe yang tidak nyaman dengan fluktuasi pasar yang tajam, investasi dengan risiko tinggi seperti saham mungkin bukan pilihan yang tepat.
Sebaliknya, jika kamu merasa siap mengambil risiko, investasi di instrumen yang lebih volatile bisa memberikan peluang keuntungan yang lebih besar.
Salah satu cara untuk mengetahui profil risiko adalah dengan melakukan tes profil risiko yang biasanya disediakan oleh platform investasi atau berkonsultasi dengan financial planner.
Baca Juga: 3 Cara Menilai Kelayakan Perusahaan Sebelum Menandatangani Kontrak
Setelah tahu profil risiko, kamu bisa memilih instrumen investasi yang paling cocok untukmu.
2. Pilih Instrumen Investasi yang Terbukti Aman
Setelah memahami profil risiko, langkah selanjutnya adalah memilih instrumen investasi yang sudah terbukti aman.
Salah satu jenis investasi yang relatif aman adalah obligasi.
Baca Juga: Praktek Pungli Terungkap di 12 Samsat Kabupaten Banten
Obligasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan.
Meskipun ada risiko, obligasi pemerintah umumnya dianggap lebih aman karena dijamin oleh negara.
Selain itu, reksadana pasar uang juga bisa menjadi pilihan yang aman bagi pemula.
Reksadana pasar uang terdiri dari investasi di instrumen yang lebih aman seperti deposito atau surat berharga jangka pendek.
Keuntungannya memang lebih rendah dibandingkan saham, tapi risiko yang ditanggung juga jauh lebih kecil.
Investasi properti juga bisa menjadi pilihan aman jika kamu berencana untuk investasi dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
3 Aktivitas yang Bisa Membantu Meningkatkan Self Love Setelah Pengkhianatan
3 Alasan Mengapa Meminta Bantuan Psikolog Itu Penting Setelah Diselingkuhi
3 Langkah Praktis untuk Mengatasi Rasa Sakit Setelah Dikhianati
3 Alasan Pentingnya Self Love dalam Proses Penyembuhan dari Trauma
3 Cara Membangun Kembali Rasa Percaya Diri Setelah Diselingkuhi
3 Cara untuk Menghindari Kesalahan Umum Saat Membaca Kontrak Kerja