Komponen utama vaksin adalah antigen, yaitu kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan untuk merangsang pembentukan sel-sel antibodi dan kekebalan tubuh.
Sementara komponen tambahan ini kadarnya rendah dan aman bagi kesehatan.
Mitos 4: Imunisasi Hanya Perlu Dilakukan Sekali
Imunisasi penting untuk dilakukan sejak bayi baru lahir hingga berusia 2 tahun, sesuai dengan jadwal dan jenis yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Tujuannya untuk melindungi anak dari serangan infeksi penyakit berbahaya, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan serius, cacat pada anak hingga kematian, sehingga harus dilakukan secara bertahap.
Mitos 5: Anak yang Sehat Tidak Membutuhkan Imunisasi
Faktanya, sistem kekebalan tubuh bayi baru lahir hingga usia 2 tahun belum berkembang dengan sempurna, walaupun kondisi tubuhnya sehat dan pertumbuhannya sesuai grafik pertumbuhan anak seusianya, jadi semua anak harus wajib imunisasi.
Baca Juga: Rumitnya Membuang Sampah di Jepang, Jika Melanggar Akan Dipublikasikan Namanya
Mitos 6: ASI Dapat Menjadi Pengganti Vaksin
ASI memang mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan anak, termasuk antibodi untuk membentuk kekebalan tubuhnya.
Namun, perlindungan terhadap penyakit-penyakit tertentu hanya bisa didapatkan melalui pemberian vaksin, sehingga anak wajib mendapatkan imunisasi dasar lengkap.
Mitos 7: Vaksin Tidak Efektif dalam Mencegah Penyakit
Vaksin telah terbukti efektif secara klinis mencegah infeksi dan penyebaran wabah penyakit menular.
Salah satu bukti keberhasilan vaksin adalah hilangnya penyakit cacar atau smallpox sejak tahun 1900-an.
Padahal, zaman dulu 1 dari 3 penderita penyakit cacar meninggal dunia akibat infeksi virus variola yang ganas ini.