Cancel Culture, Fenomena yang Bikin Redup Karier Public Figure

photo author
- Sabtu, 14 Desember 2024 | 21:45 WIB
Cancel Culture, Fenomena yang Bikin Redup Karier Public Figure (Poster Petisi 'Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden' pada 4 Desember 2024. (change.org))
Cancel Culture, Fenomena yang Bikin Redup Karier Public Figure (Poster Petisi 'Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden' pada 4 Desember 2024. (change.org))

KLIK SAJA - Budaya pembatalan atau cancel culture semakin sering dibicarakan oleh pengguna media sosial sebagai respons terhadap berbagai skandal yang muncul.

Di Indonesia, beberapa warganet menyoroti insiden yang melibatkan Gus Miftah, seorang pejabat publik, yang dianggap telah berperilaku tidak etis terhadap seorang pedagang es teh bakul bernama Sunhaji.

Ucapan Gus Miftah yang viral di media sosial, “Yo kono didol, goblk! (Sana dijual, goblk),” kepada pedagang tersebut telah memicu kekecewaan di kalangan publik.

Pada 4 Desember 2024, tampak sebuah petisi berjudul 'Copot Gus Miftah dari Jabatan Utusan Khusus Presiden' sebagai bentuk penghakiman publik terhadap sang pembantu Presiden RI, Prabowo Subianto.

Baca Juga: Kepo Tak Selalu Buruk, Ini 4 Manfaat Dari Sifat Rasa Ingin Tahu

Gejolak kasus ini mulai terasa menurun kala Gus Miftah mengungkap permohonan pengunduran dirinya pada 6 Desember 2024.

Berkaca dari hal itu, mari memahami lebih jauh tentang fenomena cancel culture yang dapat membuat redup karier dari seorang public figure (tokoh publik).

Apa Itu Cancel Culture?

Menurut Britannica, istilah “cancel culture” merujuk pada usaha kolektif untuk memboikot tindakan individu yang dianggap menyinggung atau tidak etis, yang biasanya terjadi di media sosial.

Baca Juga: 8 Cara Mendeteksi Permintaan Maaf Yang Penuh Kepalsuan

Secara umum, budaya pembatalan publik mengacu pada keputusan untuk menghentikan dukungan terhadap tokoh-tokoh publik yang telah melakukan tindakan negatif.

Individu yang menjadi sasaran boikot melalui gerakan ini sering kali mengalami penurunan dalam karier mereka karena kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

Siapa Saja yang Terancam?

Dikutip dari The Private Therapy Clinic, fenomena cancel culture pada dasarnya merupakan perkembangan dari konsep boikot.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dita Nilan Karlasari

Sumber: Britannica, Pew Research, Change

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X