KLIK SAJA – Sobat Klik Saja, pernakah kalian dalam situasi dimana ada seseorang entah rekan kerja atau teman yang kerap meminta maaf atas kesalahannya, namun di lain waktu dia masih mengulangi perilaku salah tersebut.
Tentunya hal tersebut mengindikasikan bahwa permintaan maafnya adalah penuh kepalsuan alias munafik.
Permintaan maaf haruslah benar-benar dimaknai dari dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan sama.
Baca Juga: 3 Mitos Tentang Orang Narsis Yang Ternyata Salah Kaprah
Berikut 8 cara dalam mendeteksi permintaan maaf yang palsu dilansir dari Psychology Today, supaya kamu benar-benar bisa memahami apakah si peminta maaf benar-benar tulus melakukannya.
- Menyalahkan Pihak Lain
Permintaan maaf palsu kadang menyalahkan kita atau orang lain selain orang yang meminta maaf.
Permintaan maaf yang tulus adalah menuntut tanggung jawab pribadi.
Permintaan maaf ini sering kali dimulai dengan kalimat klasik "Saya minta maaf jika kamu tersinggung" atau "Saya minta maaf karena kamu marah." Orang tersebut mungkin juga berkata, "Masalahnya adalah kamu terlalu sensitif sih”.
- Terkesan Dipaksakan
Permintaan maaf palsu kadang terkesan dipaksakan.
Permintaan maaf yang sebenarnya haruslah sepenuhnya bersifat sukarela, pemaksaan terlihat jelas ketika orang mengatakan sesuatu seperti "Baiklah, saya minta maaf!", dengan gestur muka ketus.
- Tidak Spesifik
Permintaan maaf palsu seringkali tidak jelas dan tidak spesifik.
Permintaan maaf yang sebenarnya harus dengan jelas mengidentifikasi kesalahan orang tersebut.
Contoh umumnya adalah "Saya minta maaf jika saya melakukan kesalahan", tanpa ada keterangan apa kesalahan yang dilakukannya.
- Harus Bersyarat
Permintaan maaf palsu kadang harus memiliki syarat-syarat tertentu.