Psikolog Albers menjelaskan bahwa ada sisi positif dari JOMO yang dapat memberikan keuntungan dari perspektif psikologi.
"JOMO lebih berfokus pada kualitas ketimbang kuantitas," ujar sang psikolog.
"(Contohnya) seseorang bisa saja membuat daftar panjang untuk segala hal untuk dibagikan di media sosial, namun JOMO akan membuat seseorang lebih fokus terhadap hal-hal kecil yang ada di sekitarnya," ungkapnya.
Lantas, apa saja manfaat JOMO berdasarkan pengamatan dari sisi psikologi dan bagaimana cara terbaik untuk memulainya? Berikut ini ulasan selengkapnya.
Baca Juga: Bagaimana Stres Dapat Memicu Tumbuhnya Sel Kanker
Manfaat
Albers mengidentifikasi tiga keuntungan yang muncul dari kecenderungan seseorang untuk mengalami ‘JOMO’ (Joy of Missing Out) dalam kehidupan mereka:
1. Peningkatan produktivitas dan konsentrasi dalam aktivitas sehari-hari.
2. Peningkatan keterlibatan emosional dalam membangun hubungan sosial di sekitar.
3. Peningkatan kesejahteraan emosional serta kesehatan fisik saat menjalani kegiatan sehari-hari.
Sisi Buruk
Meskipun terdapat manfaat yang baik bagi seseorang yang berperilaku JOMO, adapun sisi buruk dari JOMO.
Menurut Albers, JOMO juga dapat membuat seseorang takut untuk keluar dari zona nyaman dan menjelajahi hal-hal baru.
"Jika ada sisi buruk dari JOMO, itu adalah tentang motivasi seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan menjelajahi hal-hal baru," tutur Albers.
Artikel Terkait
Bukan dari Jepang, Inilah Sosok di Balik Kesuksesan HokBen Jadi Resto yang Melegenda di Indonesia Sejak Tahun 1985
Empat Ide Masak Ayam Bisa Jadi Makanan Sehat dan Cocok untuk Anak Gym
4 Kegiatan Sederhana Yang Bisa Tingkatkan Level IQ
Hari Diabetes Sedunia Setiap Tanggal 14 November, Jangan Lupa Pola Makan Teratur untuk Mencegah Penyakit Diabetes!
Susah Tidur? Cobalah Menulis ‘to do list’ Sebelum Rehat Malam