Kasus ini sangat mengejutkan publik dan memicu perbincangan nasional mengenai dampak negatif media sosial pada anak-anak, khususnya paparan terhadap fenomena manosphere dan budaya incel.
Beberapa pihak bahkan membandingkan kasus ini dengan serial Netflix Adolescence, yang mengangkat tema serupa mengenai remaja laki-laki, radikalisasi daring, dan tindakan kekerasan.
Tahun lalu, Perdana Menteri Anwar Ibrahim sempat dimintai tanggapan mengenai kasus ini serta maraknya kasus kekerasan lain di lingkungan sekolah belakangan ini.
Ia dikutip oleh media lokal yang menyatakan bahwa "hampir seluruh permasalahan ini bersumber dari penggunaan ponsel pintar dan media sosial," seraya berjanji akan mengkaji penerapan langkah-langkah penanganan yang lebih ketat.
Sejak saat itu, pihak berwenang telah memberlakukan aturan baru yang diklaim dapat melindungi anak-anak serta menekan paparan terhadap konten daring yang berbahaya.
Tak tanggung-tanggung, terhitung sejak bulan Juni 2026, Malaysia resmi melarang seluruh anak di bawah usia 16 tahun untuk memiliki akun di platform media sosial utama.***