Setelah penarikan terjadi, akan dimulai hitungan waktu 72 jam, di mana Hamas wajib membebaskan para sandera yang masih hidup.
Menurut pejabat yang sama, pembebasan sandera kemungkinan akan dimulai pada hari Senin.
Hal-hal yang Belum Diketahui
Apa yang diumumkan sejauh ini hanyalah bagian dari rencana perdamaian 20 poin yang diungkapkan Trump minggu lalu.
Israel telah menyetujui rencana tersebut, sementara Hamas baru menyetujui sebagian dari poin-poin yang diajukan.
Beberapa isu penting masih belum mencapai kesepakatan, terutama:
- Pelucutan senjata Hamas — salah satu poin utama dalam rencana Trump.
- Hamas sebelumnya menolak untuk melucuti senjata, dan mengatakan bahwa mereka hanya akan melakukannya setelah negara Palestina berdiri secara resmi.
- Masa depan pemerintahan Gaza juga menjadi perdebatan.
- Rencana Trump menyatakan bahwa Hamas tidak akan memiliki peran di masa depan di Jalur Gaza.
- Wilayah tersebut akan sementara dikelola oleh “komite teknokrat Palestina yang apolitis”, sebelum diserahkan kepada Otoritas Palestina (PA).
Namun, Netanyahu tampak menolak keterlibatan Otoritas Palestina minggu lalu, meskipun ia menyetujui rencana Trump secara keseluruhan.
Selain itu, kelompok ultranasionalis garis keras di koalisi pemerintahan Netanyahu, yang ingin membangun kembali permukiman Yahudi di Gaza, kemungkinan juga akan menentang poin tersebut.
Hamas, di sisi lain, menyatakan bahwa mereka masih mengharapkan untuk memiliki peran tertentu dalam pemerintahan Gaza.
Sebagai tambahan, hingga Rabu malam, Hamas belum menerima daftar akhir tahanan Palestina yang akan dibebaskan Israel dalam pertukaran dengan para sandera di Gaza.
Rencana 20 poin tersebut menyebutkan bahwa 250 tahanan yang dihukum seumur hidup, serta 1.700 warga Gaza yang ditahan setelah 7 Oktober 2023, akan dibebaskan.
Sementara itu, perayaan pecah di berbagai wilayah Gaza setelah pengumuman kesepakatan tersebut disampaikan.
Warga menyalakan kembang api dan meneriakkan slogan-slogan kemenangan, menandai harapan baru akan berakhirnya perang yang telah menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan wilayah tersebut selama dua tahun terakhir.***