internasional

Israel Cegat Kapal Bantuan Kemanusiaan Gaza yang Membawa Aktivis Greta Thunberg

Selasa, 10 Juni 2025 | 19:58 WIB
Greta Thunberg (BBC)

KLIK SAJA - Israel menyatakan telah mendeportasi aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, sehari setelah kapal bantuan menuju Gaza yang ia tumpangi bersama 11 orang lainnya dicegat oleh pasukan Israel di Laut Mediterania.

Menurut Kementerian Luar Negeri Israel, Thunberg meninggalkan Tel Aviv pada Selasa pagi dengan penerbangan menuju Prancis setelah menyetujui proses deportasi tersebut.

Sementara itu, pemerintah Prancis menyebut lima dari enam warga negaranya yang ditahan bersama Thunberg menolak menandatangani surat deportasi dan kini akan menjalani proses hukum.

Freedom Flotilla Coalition (FFC), kelompok aktivis yang mengoperasikan kapal The Madleen, menuntut pembebasan segera bagi seluruh orang yang ditahan.

Kapal tersebut dicegat pada Senin pagi saat para aktivis mencoba mengirim bantuan “simbolis” ke Gaza sebagai bentuk perlawanan terhadap blokade maritim Israel sekaligus sorotan atas krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.

Kementerian Luar Negeri Israel mencemooh kapal tersebut sebagai "kapal selfie" dan mengumumkan melalui platform X bahwa para penumpang telah dibawa ke Bandara Ben Gurion di Tel Aviv setelah kapal mereka tiba di Pelabuhan Ashdod pada Senin malam.

"Bagi mereka yang menolak menandatangani dokumen deportasi dan menolak meninggalkan Israel, akan dibawa ke otoritas hukum sesuai undang-undang Israel untuk disahkan proses deportasinya," ujar pernyataan resmi.

Selasa pagi, kementerian menyatakan bahwa Greta Thunberg "baru saja meninggalkan Israel dalam penerbangan menuju Swedia (melalui Prancis)", sambil memposting foto dirinya duduk di dalam pesawat.

Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, sebelumnya menulis di X bahwa konsulat Prancis telah mengunjungi keenam warganya yang ditahan. "Satu orang bersedia pulang secara sukarela dan akan kembali hari ini. Lima lainnya akan menjalani proses deportasi paksa," katanya.

Dari keenam warga Prancis tersebut, termasuk Anggota Parlemen Eropa Rima Hassan dan dua jurnalis: Omar Faiad dari Al Jazeera dan Yanis Mhamdi dari media Blast, yang menurut Reporters Without Borders tengah mendokumentasikan pelayaran kapal Madleen.

Selain warga Prancis dan Swedia, kapal tersebut juga membawa aktivis dari Brasil, Jerman, Belanda, Spanyol, dan Turki.

FFC dalam pernyataannya pada Senin malam mengonfirmasi bahwa semua penumpang telah tiba di Ashdod dan mereka yang menolak deportasi akan dipindahkan ke fasilitas penahanan di Ramle, dekat Tel Aviv.

 "Kami terus menuntut pembebasan segera semua relawan dan pengembalian bantuan yang disita. Penahanan ini melanggar hukum internasional," ujar FFC.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa bantuan yang disita, termasuk susu formula bayi dan obat-obatan, akan disalurkan ke Gaza melalui “jalur kemanusiaan resmi”.

Halaman:

Tags

Terkini