Gencatan senjata sementara pada Mei lalu menurunkan tarif AS atas produk China menjadi 30%, sementara China memangkas tarif terhadap barang AS menjadi 10% dan berjanji mencabut hambatan ekspor mineral kritis.
Kesepakatan tersebut memberi waktu 90 hari bagi kedua belah pihak untuk mencapai perjanjian akhir.
Namun sejak saat itu, negosiasi tampak mandek di tengah tuduhan pelanggaran kesepakatan dari kedua belah pihak.
AS menuduh China gagal melanjutkan pengiriman mineral kritis dan magnet tanah jarang yang vital untuk industri otomotif dan komputer.
Kementerian Perdagangan China membantah tuduhan tersebut dan balik menuduh AS telah merusak kesepakatan dengan memperkenalkan pembatasan baru terhadap chip komputer.
Trump pun memberlakukan pembatasan ekspor baru terhadap perangkat lunak desain semikonduktor serta mengumumkan pencabutan visa mahasiswa China.
Presiden AS itu mengatakan setelah panggilan telepon bahwa “tidak seharusnya ada lagi pertanyaan tentang kompleksitas produk tanah jarang.”
Ia mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih: “Mahasiswa China boleh datang, tidak masalah, sungguh.
Merupakan kehormatan bagi kami menerima mereka. Tapi tentu, kami ingin melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.”
Media pemerintah China juga melaporkan bahwa Xi memperingatkan Washington agar menangani isu Taiwan “dengan hati-hati” guna menghindari konflik.
Namun hanya beberapa hari setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa China merupakan ancaman “yang akan segera terjadi” terhadap pulau tersebut.
Hegseth dalam Dialog Shangri-La di Singapura menyebut bahwa Beijing “secara kredibel tengah bersiap untuk mungkin menggunakan kekuatan militer demi mengubah keseimbangan kekuasaan.”
China menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri dan akan disatukan kembali, bahkan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuan tersebut.
AS sendiri mendukung Taiwan secara militer, namun tidak mengakuinya secara resmi karena kebijakan “Satu China”.
Menurut ringkasan percakapan telepon yang disampaikan media China, Xi menekankan bahwa AS harus menangani “isu Taiwan secara hati-hati untuk mencegah segelintir separatis pro-kemerdekaan Taiwan menyeret China dan AS ke dalam situasi konflik yang berbahaya.”