internasional

Sinyal Menyerah? Donald Trump Akan Kunjungi China Usai Berbincang dengan Xi Jinping Lewat Telepon

Jumat, 6 Juni 2025 | 08:40 WIB
ilustrasi Trump berkomunikasi dengan Xi Jinping (Financial Times)

KLIK SAJA - Donald Trump berujar bahwa dirinya akan mengunjungi China setelah berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden China, Xi Jinping.

Presiden Amerika Serikat itu menyebut bahwa ia telah membalas undangan tersebut dengan mengundang Xi ke Gedung Putih dalam percakapan yang disebutnya sebagai “pembicaraan yang sangat baik”.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari kedua belah pihak terkait rencana kunjungan ini.

Panggilan telepon pada hari Kamis itu merupakan percakapan pertama antara kedua pemimpin sejak Trump meluncurkan perang dagang dengan Beijing pada Februari lalu.

Media pemerintah China melaporkan bahwa percakapan itu terjadi atas permintaan Gedung Putih.

Trump menulis di media sosial bahwa percakapan selama satu setengah jam tersebut berfokus pada isu perdagangan dan menghasilkan “kesimpulan yang sangat positif bagi kedua negara.”

“Ia mengundang saya ke China, dan saya mengundangnya ke sini,” ujar Trump mengenai percakapannya dengan Xi saat bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz di Kantor Oval.

“Kami berdua menerima, jadi saya akan ke sana bersama Ibu Negara dalam waktu tertentu, dan ia juga akan datang ke sini, semoga bersama Ibu Negara China.”

Versi pernyataan resmi dari pihak China menyebutkan soal undangan ke Beijing, tetapi tidak menyebut balasan undangan ke Gedung Putih.

Menurut kantor berita resmi Xinhua, Xi mengatakan kepada Trump bahwa AS sebaiknya “mencabut langkah-langkah negatif yang telah diambil terhadap China.”

Xi juga menyatakan bahwa China selalu menepati janji, dan bahwa kedua pihak harus mematuhi kesepakatan yang telah dicapai — merujuk pada perjanjian dagang terbaru yang disepakati di Jenewa.

Kedua negara saling menuduh telah melanggar perjanjian yang bertujuan menurunkan tarif perdagangan secara drastis — perjanjian yang sempat digembar-gemborkan Trump sebagai “reset total”.

Perjanjian itu dibuat setelah Trump menaikkan tarif terhadap sejumlah negara, dengan tarif tertinggi dijatuhkan kepada China.

Beijing membalas dengan tarif tinggi terhadap produk AS, memicu saling balas menaikkan tarif yang sempat memuncak hingga 145%.

Halaman:

Tags

Terkini