Apple mulai merambah Cina sejak 1990-an, namun baru resmi memproduksi di sana pada 2001 lewat kerja sama dengan Foxconn.
Bersama-sama, mereka mengembangkan rantai pasokan yang efisien dan kompleks, bahkan mengangkat beberapa perusahaan lokal menjadi raksasa manufaktur global.
Namun kini, Apple mulai mengalihkan sebagian produksi ke Vietnam dan India sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasca-pandemi.
Meski begitu, 150 dari 187 pemasok utama Apple pada 2024 masih beroperasi di Cina. Tidak heran jika CEO Apple, Tim Cook, pernah menyatakan, "Tidak ada rantai pasokan di dunia yang lebih penting bagi kami daripada China."
Dampak untuk Cina dan Apple Sendiri
Perang tarif ini juga berdampak besar pada Tiongkok. Ketergantungan mereka pada Apple bukan hanya soal ekonomi, tapi juga status—Apple telah lama menjadi simbol inovasi Barat yang diidam-idamkan.
Kini, dengan naiknya Huawei dan Vivo, serta menurunnya daya beli konsumen, posisi Apple mulai tergeser.
Lebih jauh, Cina membalas dengan tarif balasan dan kontrol ekspor terhadap mineral penting, yang memperketat krisis rantai pasok.
Dalam kondisi ini, Apple menghadapi tekanan dari dua sisi: politik AS dan ekonomi Cina.
Apa Selanjutnya?
Apple telah mengumumkan investasi sebesar $500 miliar di AS, namun upaya ini mungkin belum cukup untuk meredakan tekanan Trump.
Apalagi jika tarif baru benar-benar diterapkan, Apple akan menghadapi tantangan logistik, biaya, hingga ketidakpastian hukum yang berlarut-larut.
Di tengah perang tarif ini, satu hal menjadi jelas: desain mungkin dibuat di California, tapi masa depan iPhone tidak bisa lepas dari bayang-bayang Tiongkok.
Walau negara-negara seperti Vietnam, India dan bahkan Indonesia sudah menawarkan diri, tampaknya Apple belum bisa berpaling dari China, mari kita lihat perkembangannya.***