internasional

Mengenal Shiroposuto, Kotak Pos Pembuangan Materi Pornografi Di Jepang, Mulai Tak Laku Imbas Konten Digital

Jumat, 14 Februari 2025 | 17:55 WIB
Kotak Pos Shiroposuto yang masih tersisa di Jepang (pride)

KLIK SAJA - Shiroposuto atau jika diartikan menjadi ‘kotak pos putih’, alih-alih digunakan untuk mengirim surat, ternyata fungsinya diperuntukkan bagi orang Jepang yang ingin membuang secara diam-diam materi pornografi yang tidak diinginkan.

Pertama kali muncul di kota Amagasaki pada tahun 1963, menyusul kampanye oleh kelompok ibu-ibu setempat yang bertekad untuk mengatasi pengaruh merusak dari ledakan buku dan majalah porno pascaperang.

Tokyo baru mendapatkan kotak penyimpanan pornografi pertamanya pada tahun 1966, tetapi dalam kurun waktu tiga tahun ibu kota tersebut diperkirakan memiliki 500 kotak.

Baca Juga: Alasan Mengapa Jepang Bisa Mengalami Kekurangan Populasi

Sebelum kotak putih dipasang, sampah pornografi ini berserakan di jalan, sehingga sangat rawan ditemukan oleh anak-anak di bawah umur, itulah fungsi utama dari Shiroposuto.

Tempat sampah di pinggir jalan tidak sebanyak di Jepang karena orang-orang biasanya membawa sampah mereka pulang. Tempat sampah hampir menghilang dari jalan-jalan di Jepang setelah serangan gas sarin tahun 1995 di kereta bawah tanah Tokyo.

Sebagian besar dipasang di luar stasiun kereta api, tempat orang-orang membuang material berlebih, sering kali di bawah kegelapan agar tidak ketahuan oleh teman, kolega, atau tetangga.

Pengangkutan buku, majalah, dan DVD secara berkala di beberapa lokasi menunjukkan bahwa barang-barang tersebut belum sepenuhnya habis masa manfaatnya.

Akan tetapi kini, banjir pornografi digital yang tersedia di telepon pintar membuat kotak-kotak itu menjadi usang.

Tahun lalu, sejumlah pejabat di Nagasaki menutup beberapa kotak pos putih sebagai uji coba setelah jumlah barang yang dikumpulkan anjlok dari antara 5.000 hingga 6.000 setahun pada dekade pertama milenium menjadi sekitar 2.000 saat ini.

Dengan munculnya pornografi daring, shiroposuto menjadi lebih mirip dengan tempat sampah biasa, peran mereka dalam melindungi anak-anak dari materi berbahaya kini tidak lagi menjadi faktor penting.

Kotak-kotak tersebut adalah korban terbaru dari kampanye panjang Jepang untuk membersihkan ruang publik dari gambar-gambar cabul atau tidak senonoh, terutama sebelum acara-acara internasional besar.

Shiroposuto sukses saat pertama kali muncul pada tahun 1960-an, tetapi masyarakat Jepang telah berubah, dan cara orang mengonsumsi media telah berubah.

Industri pornografi di Jepang termasuk yang terbesar di dunia, bukan semata-mata karena masyarakatnya yang cabul, tetapi lebih kepada rendahnya tingkat kelahiran.

Halaman:

Tags

Terkini