Indonesia juga menekankan pentingnya gencatan senjata di Gaza sebagai momentum memulai dialog dan negosiasi demi mewujudkan solusi dua negara berdasarkan hukum internasional.
Respons MUI
Selain Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga secara tegas menolak rencana tersebut.
Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas, berpendapat bahwa relokasi penduduk Gaza hanya bertujuan untuk melemahkan kekuatan kelompok militan Palestina, Hamas, serta memperkuat posisi Israel.
Baca Juga: Donald Trump Pertimbangkan Tarif 10 Persen Barang Impor 'Made in China'
“Dengan berkurangnya jumlah penduduk di Gaza, maka jumlah anggota yang dapat direkrut oleh kelompok perlawanan terhadap pendudukan Israel juga akan menurun,” ungkap Anwar pada Selasa, 21 Januari 2025.
Ia menyatakan bahwa rencana ini penuh dengan kepentingan untuk mempermudah Israel dalam mencaplok wilayah Palestina.
“Usaha ini sejalan dengan strategi besar untuk mengusir rakyat Palestina dari Gaza,” tambahnya dalam pernyataan tersebut.
“Kosongnya daerah Gaza akan semakin memotivasi Israel untuk mewujudkan negara Israel Raya yang mereka impikan,” tegasnya.
Baca Juga: Gara-gara Squid Game 2, Netflix Naikkan Biaya Langganan di Beberapa Negara, Indonesia Juga?
Anwar meminta pemerintah Indonesia tidak meladeni rencana tersebut.
“Di balik topeng kemanusiaan, ada agenda buruk untuk memperluas kekuasaan Israel dengan mengorbankan rakyat Palestina,” pungkasnya.
Posisi Tegas Indonesia
Pemerintah Indonesia konsisten dalam mendukung perjuangan Palestina untuk meraih kemerdekaan.
Penolakan terhadap relokasi ini mempertegas posisi Indonesia dalam menjaga integritas wilayah Palestina sesuai dengan hukum internasional.***