"Kami mendesak Negara Anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil tindakan guna memastikan penerapan konvensi yang mengikat tentang keselamatan jurnalis, sehingga dapat mengakhiri kematian dan cedera yang terjadi setiap tahun," ungkap Sekretaris Jenderal IFJ Anthony Bellanger dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara pemerintah Israel David Mercer berujar dalam konferensi pers pada hari Rabu bahwa mereka tidak menerima angka-angka tersebut. "Kami tidak yakin angka-angka itu benar," katanya.
Israel membantah bahwa mereka sengaja menyakiti wartawan, tetapi mengakui bahwa beberapa wartawan telah tewas dalam serangan udara terhadap sasaran militer.
Baca Juga: PBB Tangguhkan Bantuan ke Gaza, Imbas Perampokan Gangster Israel
Dalam beberapa kasus, Israel bahkan menuduh wartawan sebagai pejuang Hamas atau kelompok bersenjata lainnya.
Pada tanggal 25 Oktober, Israel menyerang kompleks pariwisata di kota Hasbaiyya di Lebanon selatan, tempat lebih dari selusin jurnalis yang bekerja untuk media Lebanon dan Arab sedang tidur.
Human Rights Watch mengecam serangan itu sebagai "kejahatan perang yang nyata".
Militer Israel mengatakan serangan itu menargetkan pejuang Hizbullah tetapi mengatakan serangan itu "sedang ditinjau".
Pada bulan Juli, jurnalis Al Jazeera Ismail al-Ghoul dan Rami al-Rifi tewas di kamp pengungsi Shati, sebelah barat Kota Gaza, dalam serangan Israel terhadap kendaraan mereka.
Operator kamera Al Jazeera Fadi al-Wahidi ditembak di leher saat mengenakan rompi “pers” pada bulan Oktober saat melaporkan dari kamp pengungsi Jabalia.***