“Tahun lalu kami bahkan tidak bisa memanen buah zaitun, kecuali dalam jumlah yang sangat sedikit,” ungkap Omar Tanatara, seorang petani dari desa Umm Safa.
“Pada suatu saat, tentara datang, melemparkan buah zaitun yang sudah kami kumpulkan ke tanah, dan memerintahkan kami untuk pulang,” kata Omar, yang juga merupakan anggota dewan desa.
"Beberapa orang bahkan ditembaki dan pohon zaitun ditebang dengan gergaji," imbuh Omar,
Bahkan di saat genting, penduduk desa lainnya menggunakan penggaruk genggam kecil untuk mencabut hasil panen tahun ini dari pohon-pohon mereka yang tersisa selagi bisa.
Bahkan ketika aktivis Israel dan internasional menemani penduduk desa ke kebun zaitun mereka, dengan harapan untuk menghalangi ancaman, pun tidak ada jaminan keselamatan.
Tanah merupakan inti konflik puluhan tahun antara Israel dan Palestina - siapa yang menguasainya dan siapa yang memiliki akses terhadapnya.
Bagi ribuan keluarga dan desa Palestina, menanam dan memanen zaitun merupakan soko guru dari perekonomian mereka.
Kulitas minyak Zaitun dari Palestina sudah terkenal semenjak jaman dahulu, dan salah satu komoditas ekspor semenjak peradaban kuno.
Baca Juga: Peristiwa Terkini, Israel Gempur Lagi Gaza Utara, Tewaskan 34 Korban Sipil
Namun banyak yang mengatakan bahwa, akhir-akhir ini, akses terhadap pohon di tanah mereka telah dihalangi, sering kali dengan kekerasan oleh pemukim Israel.
Ratusan pohon yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kematangan dan menghasilkan buah telah sengaja dibakar atau ditebang, ungkap PBB.
Lebih dari 96.000 dunum (sekitar 96 km persegi; 37 mil persegi) kebun zaitun di Tepi Barat juga tidak ditanami pada tahun 2023 karena pembatasan Israel terhadap akses bagi petani Palestina.
Setelah dikumpulkan dengan tangan, penduduk desa Umm Safa membawa karung-karung penuh buah zaitun ke pabrik terdekat, tempat mesin pengepres mulai kembali beroperasi musim ini.
Zaitun merupakan produk pertanian terpenting di Tepi Barat.