KLIK SAJA - Pada akhir bulan lalu, seorang wanita Palestina berusia 59 tahun berangkat untuk mengumpulkan buah zaitun di tanah milik keluarganya di dekat desa Faqqua, di utara Tepi Barat yang diduduki.
Itu adalah sesuatu yang telah dilakukan Hanan Abu Salameh selama puluhan tahun.
Dalam hitungan menit, ibu tujuh anak dan nenek 14 cucu itu terbaring sekarat di tengah debu kebun zaitun, dengan luka tembak di dadanya dimana dia ditembak oleh tentara Israel.
Dilansir dari BBC, Meskipun keluarga tersebut telah mengoordinasikan niat mereka untuk memetik buah zaitun dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Baca Juga: Barbar! Konvoi Truk Bantuan PBB Untuk Warga Gaza Dijarah Israel
Menurut putranya Fares dan suaminya Hossam, tentara tersebut melepaskan beberapa tembakan saat anggota keluarga lainnya melarikan diri untuk berlindung.
IDF mengatakan pihaknya sedang menyelidiki insiden tersebut, tetapi keluarga Hanan yang berduka memiliki sedikit harapan atau ekspektasi bahwa pembunuhnya akan diadili.
Memanen zaitun merupakan adalah kegiatan pertanian yang sudah turun temurun bagi warga Palestina, bahkan sudah tercatat baik dalam Al Quran maupun dalam Bibel.
Kegiatan tersebut tak lain sebagai pemenuhan kebutuhan ekonomi bagi banyak warga Palestina, tetapi, namun menurut PBB, hal tersebut semakin tidak menentu dengan situasi keamanan saat ini.
Para petani di seluruh wilayah Tepi Barat, yang secara internasional dianggap sebagai tanah Palestina yang diduduki oleh Israel , menghadapi risiko yang meningkat.
Baca Juga: Human Rights Watch: Militer Telah Israel Melakukan Kejahatan Perang di Gaza
Risiko tersebut seperti serangan terorganisasir oleh pemukim Israel yang berusaha menyabotase panen zaitun.
Beserta didukung penggunaan kekuatan oleh pasukan keamanan Israel untuk memblokir jalan dan akses warga Palestina ke tanah mereka.
Hal seperti sudah dikeluhkan oleh banyak petani Palestina, seperti Omar Tanatara.