Selamat Tinggal VOA! Ratusan Jurnalis Voice of America Dipecat Pemerintahan Trump

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Minggu, 22 Juni 2025 | 21:02 WIB
VOA Office (VOA)
VOA Office (VOA)

KLIK SAJA - Ratusan jurnalis dari Voice of America (VOA)—yang merupakan sebagian besar staf yang tersisa—telah dipecat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, yang secara efektif menutup lembaga penyiaran berita milik pemerintah Amerika Serikat tersebut.

Pemerintah menyatakan bahwa pemecatan massal ini dilakukan karena lembaga tersebut "penuh dengan disfungsi, bias, dan pemborosan".

Steve Herman, kepala koresponden nasional VOA, menyebut pembongkaran lembaga yang didirikan pada era Perang Dunia II untuk melawan propaganda Nazi ini sebagai “tindakan sabotase diri yang bersejarah.”

Di antara mereka yang dipecat adalah para jurnalis berbahasa Persia yang sebelumnya menjalani cuti administratif, namun dipanggil kembali bekerja pekan lalu setelah Israel menyerang Iran.

Menurut kantor berita Associated Press, para jurnalis Persia tersebut sempat keluar kantor pada Jumat untuk merokok, namun tidak diizinkan kembali masuk setelah surat pemberhentian mereka diumumkan.

“Hari ini, kami mengambil tindakan tegas untuk menjalankan agenda Presiden Trump dalam memangkas birokrasi federal yang sudah tidak terkendali,” kata Kari Lake, yang ditunjuk Presiden untuk memimpin VOA, dalam pernyataannya pada Jumat saat mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap 639 karyawan.

Secara keseluruhan, lebih dari 85% staf lembaga tersebut—sekitar 1.400 orang—telah kehilangan pekerjaan sejak Maret.

Lake mencatat bahwa hanya 50 karyawan yang akan tetap bekerja di VOA, Kantor Penyiaran Kuba (Office of Cuba Broadcasting), dan perusahaan induk VOA, yaitu Badan Media Global AS (USAGM).

Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh tiga jurnalis VOA yang tengah menggugat penghentian operasi lembaga tersebut di pengadilan, mereka menyebut gelombang pemecatan ini sebagai: “tanda kematian dari 83 tahun jurnalisme independen yang menjunjung tinggi idealisme demokrasi dan kebebasan Amerika Serikat di seluruh dunia.”

Langkah ini sebenarnya telah diperkirakan sejak Maret lalu, ketika Trump memerintahkan agar VOA dan USAGM—yang membawahi serta mendanai media seperti Radio Free Europe dan Radio Free Asia—dihapuskan “sebisa mungkin sesuai hukum yang berlaku.”

Selama ini, lembaga-lembaga tersebut mendapat pengakuan dan apresiasi internasional karena pelaporan mereka di wilayah-wilayah yang kebebasan persnya sangat terbatas atau bahkan tidak ada sama sekali, seperti di Tiongkok, Kamboja, Rusia, dan Korea Utara.

Namun Dan Robinson, mantan koresponden VOA, dalam sebuah opini yang diterbitkan tahun lalu menulis bahwa lembaga tersebut telah menjadi “operasi liar penuh keangkuhan yang sering kali mencerminkan bias sayap kiri sejalan dengan media partisan nasional.”

Kritik Trump terhadap VOA merupakan bagian dari serangannya yang lebih luas terhadap media AS, yang menurut sejumlah penelitian dipersepsikan publik Amerika sebagai sangat terpolarisasi.

Trump juga mendorong Partai Republik untuk mencabut pendanaan federal terhadap National Public Radio (NPR) dan Public Broadcasting Service (PBS).***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: BBC, Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X