KLIK SAJA - Keputusan mengejutkan datang dari Presiden Donald Trump pada hari Minggu ketika ia mengumumkan penerapan tarif 100 persen terhadap semua film yang diproduksi di luar negeri dan masuk ke Amerika Serikat.
Langkah kontroversial ini, yang disampaikan langsung melalui akun Truth Social miliknya, memicu kepanikan di kalangan produser dan sutradara Hollywood yang selama beberapa dekade terakhir telah mengandalkan lokasi syuting internasional demi efisiensi biaya dan keunikan latar.
Trump menyatakan bahwa industri film Amerika “sedang mati dengan sangat cepat” dan menuding negara-negara asing, seperti Selandia Baru, Hong Kong, serta kawasan Asia Tenggara dan Eropa, sebagai pihak yang telah menarik studio-studio besar AS keluar dari dalam negeri dengan tawaran insentif dan biaya produksi yang lebih murah.
Dalam pernyataannya, Trump mengklaim bahwa tren ini mengancam keamanan nasional dan mempercepat kehancuran industri kreatif dalam negeri.
“Saya menginstruksikan Departemen Perdagangan dan Perwakilan Dagang Amerika Serikat untuk segera memulai proses penerapan Tarif 100 persen pada semua film yang masuk ke negara kami dan diproduksi di luar negeri,” tulis Trump.
Pernyataan ini menambah daftar panjang kebijakan dagang agresif yang telah diambilnya selama masa jabatannya, termasuk terhadap Cina, yang kini membatasi impor film-film AS.
Bagi Hollywood, keputusan ini menimbulkan dilema besar. Banyak produksi besar – termasuk waralaba seperti The Lord of the Rings dan Mission: Impossible – yang sebagian besar proses pengambilan gambarnya dilakukan di luar negeri demi memanfaatkan insentif lokal, tenaga kerja murah, dan pemandangan eksotis.
Kini, para produser dipaksa memikirkan ulang strategi produksi mereka di tengah ketidakpastian regulasi.
Sementara itu, belum jelas bagaimana tarif ini akan diberlakukan secara teknis—apakah hanya berlaku untuk film layar lebar, atau juga menyasar serial televisi dan konten streaming yang kini semakin mendominasi pasar.
Pelaku industri mempertanyakan kelayakan dan efektivitas kebijakan ini, apalagi di tengah kompetisi global dan kebutuhan untuk menekan biaya produksi.
Trump, yang sebelumnya dikenal sebagai tokoh televisi dalam The Apprentice, kini berusaha menata ulang industri hiburan dengan pendekatan nasionalis-ekonomis yang menuai kontroversi.
Apakah langkah ini akan menghidupkan kembali Hollywood, atau justru mempercepat eksodus kreatif ke luar negeri?
Jawabannya masih kabur, namun satu hal pasti: para produser Hollywood sedang pusing tujuh keliling.***