China Pamer Batuan Langka dari Bulan di Tengah Perang Dagang

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Sabtu, 26 April 2025 | 05:20 WIB
batuan langka dari Bulan sedang dipamerkan pada sebua eksibisi di China (BBC)
batuan langka dari Bulan sedang dipamerkan pada sebua eksibisi di China (BBC)

 

KLIK SAJA - Di tengah ketegangan yang masih membara antara Amerika Serikat dan China dalam perang dagang, sebuah babak mengejutkan terbuka dari dunia luar angkasa.

China, melalui Badan Antariksa Nasional-nya (CNSA), memutuskan untuk membagikan sampel batuan Bulan langka dari misi Chang’e-5 kepada ilmuwan dari enam negara, termasuk Amerika Serikat.

Sebelumnya CNSA memamerkan temuan batuan langka Bulan tersebut dalam suatu eksibisi, sebagai bentuk ingin menunjukkan kepada dunia, bahwa China telah berhasil dalam penelitian luar angkasa.

Apalagi dalam kondisi perang dagang dengan AS, perihal ini seolah ingin menohok pihak NASA, bahwa peneliti CNSA juga memiliki misi mulia dalam hal penelitian luar angkasa.

Keputusan ini menjadi sorotan karena muncul di saat hubungan kedua negara masih berada dalam titik beku, terutama dalam kerja sama teknologi dan ilmiah.

Misi Chang’e-5 yang diluncurkan pada tahun 2020 berhasil membawa pulang sekitar 1,7 kilogram sampel tanah dan batuan dari permukaan Bulan.

Hal yang membuat sampel ini sangat istimewa adalah usianya yang diperkirakan satu miliar tahun lebih muda dari batuan Bulan yang dikumpulkan dalam misi Apollo milik AS.

Temuan ini diklaim bisa memberi petunjuk baru mengenai sejarah geologi dan aktivitas vulkanik di Bulan, yang sebelumnya dianggap telah lama "mati".

Menariknya, meskipun undang-undang AS sejak 2011 melarang kerja sama langsung antara NASA dan institusi China tanpa persetujuan Kongres, dua lembaga AS—Universitas Brown dan Universitas Stony Brook—berhasil memperoleh izin dari CNSA untuk meneliti sampel tersebut.

Perihal ini menunjukkan adanya celah diplomatik di tengah ketegangan politik yang masih belum mereda.

John Logsdon, mantan Direktur Space Policy Institute di George Washington University, menyebut pertukaran ini tidak bermuatan politik dan menekankan bahwa kerja sama ilmiah adalah norma dalam komunitas global.

Ia juga menegaskan bahwa pemeriksaan batuan Bulan tidak memiliki nilai strategis atau militer, sehingga seharusnya tak perlu dicampuri oleh ketegangan geopolitik.

CNSA sendiri tampak ingin mendorong semangat kolaborasi antar bangsa dalam hal ilmu pengetahuan antariksa.

Kepala CNSA, Shan Zhongde, menyatakan bahwa batuan Bulan ini adalah "harta karun bersama bagi seluruh umat manusia", serta mengisyaratkan bahwa China akan terus membuka pintu untuk kerja sama ruang angkasa global, termasuk dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: BBC, Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X