Pesan Terakhir Paus Fransiskus: Serukan Perdamaian di Gaza Palestina!

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 21 April 2025 | 21:48 WIB
Paus Fransiskus saat sampaikan pesan di Basilika (vatican)
Paus Fransiskus saat sampaikan pesan di Basilika (vatican)

KLIK SAJA - Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, wafat pada Senin (21/4/2025) di Vatikan dalam usia 88 tahun.

Dunia pun berkabung. Kepergiannya menggores luka mendalam di hati umat Katolik dan masyarakat dunia yang mengenal sosoknya sebagai pemimpin yang mengedepankan belas kasih, kesederhanaan, dan suara lantang untuk keadilan serta perdamaian global.

Perihal yang membuat kepergiannya kian mengharukan adalah pesan terakhir yang disampaikannya, hanya sehari sebelum wafat.

Pada Minggu Paskah, 20 April 2025, meski masih dalam masa pemulihan dari pneumonia, Paus Fransiskus menyempatkan diri tampil secara simbolis di balkon Basilika Santo Petrus untuk menyampaikan pesan Urbi et Orbi—berkat dan refleksi khas yang hanya disampaikan dua kali setahun.

Tanpa disangka, peristiwa tersebut adalah penampilan terakhirnya di ranah publik.

Karena kondisi fisiknya yang melemah, pesan tersebut dibacakan oleh ajudannya.

Namun isi pesan itu menggema ke seluruh dunia. Dalam kata-katanya yang sarat empati dan kepedulian mendalam, Paus Fransiskus menyerukan gencatan senjata segera di Gaza dan menyebut situasi kemanusiaan di wilayah itu sebagai “dramatis dan menyedihkan.”

Ia menyampaikan bahwa penderitaan warga sipil di Gaza, yang dilanda kelaparan dan ketidakamanan, tidak bisa lagi diabaikan.

“Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai: menyerukan gencatan senjata. Membebaskan para sandera dan membantu orang-orang yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai,” demikian kutipan dari pesan terakhirnya.

Paus juga menyinggung meningkatnya gelombang antisemitisme global, namun menegaskan bahwa solidaritas spiritualnya tidak terbatas—ia merasa dekat dengan penderitaan rakyat Israel dan Palestina.

Sementara dalam posisinya sebagai pemimpin moral dunia, Paus Fransiskus menolak memilih sisi berdasarkan identitas, tetapi berpihak pada nilai kemanusiaan, kasih, dan rekonsiliasi.

Pesan terakhir ini seakan menjadi warisan moral yang ditinggalkan Paus Fransiskus: sebuah seruan agar dunia tidak menutup mata terhadap tragedi kemanusiaan.

Kini, ia telah tiada. Namun, pesan damainya akan terus bergema, mengingatkan kita bahwa harapan akan perdamaian di Gaza, dan di seluruh dunia, tak pernah boleh padam.

Paus Fransiskus telah pergi, namun semangatnya untuk menciptakan dunia tanpa kekerasan, penuh kasih dan pengertian, akan terus hidup dalam ingatan umat manusia.***

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X