wisata

Mengenal Tradisi Pamose Asal Desa Topoyo, Atraksi Debus Khas Mamuju

Senin, 20 Juli 2026 | 23:24 WIB
ilustrasi aksi Pamose (gemini)

Atraksi tersebut bukan sekadar pertunjukan keberanian, melainkan simbol semangat persatuan, keberanian, keteguhan hati, dan solidaritas masyarakat Topoyo.

Sebelum memulai atraksi, para pelaku terlebih dahulu memohon izin kepada Tobaha, pue' ballung, dan masyarakat setempat.

Permohonan izin tersebut dikenal dengan istilah di pattabe'i dalam bahasa Topoyo.

Perkembangan Tradisi Pamose

Bagi masyarakat asli Desa Topoyo, Tradisi Pamose merupakan ritual yang wajib dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pembersihan desa sekaligus upacara keselamatan kampung.

Mereka meyakini bahwa pelaksanaan tradisi ini dapat menjadi ikhtiar untuk memohon perlindungan dari berbagai musibah dan bencana.

Pada masa lalu, Tradisi Pamose dapat diselenggarakan hingga tiga kali dalam setahun.

Namun, seiring perubahan kondisi sosial dan berbagai keterbatasan, pelaksanaannya kini hanya dilakukan satu hingga dua kali setiap tahun.

Perubahan zaman juga membawa perubahan pada makna Pamose.

Jika dahulu ritual ini berkaitan erat dengan semangat kepahlawanan dan kemenangan dalam peperangan, kini fungsinya berkembang menjadi bagian dari prosesi pembukaan lahan pertanian serta upacara tolak bala.

Meski mengalami penyesuaian, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap terjaga, yaitu penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan, keberanian, dan harapan akan keselamatan bersama.

Hingga kini, masyarakat Topoyo terus berupaya menjaga kelestarian Tradisi Pamose sebagai identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi mereka, Pamose bukan sekadar ritual adat, melainkan simbol hubungan yang harmonis antara manusia, alam, leluhur, dan Sang Pencipta yang harus terus dirawat agar tidak punah oleh arus zaman.***

Halaman:

Tags

Terkini