KLIK SAJA - Di ujung selatan Desa Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, laut bukan sekadar bentang alam.
Bagi masyarakat setempat, Laut Sawu adalah sumber kehidupan yang telah menghidupi mereka selama berabad-abad.
Dari laut inilah lahir salah satu tradisi paling unik di Indonesia, yakni berburu paus secara tradisional.
Bagi masyarakat Lamalera, kegiatan yang dikenal sebagai koteklema ini bukan sekadar cara mencari nafkah, melainkan bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.
Musim berburu paus berlangsung pada musim kemarau, sekitar Mei hingga September. Masa ini dikenal sebagai mussi leffa atau leffa nuang, ketika kondisi laut dianggap paling memungkinkan untuk melaut.
Sebelum berangkat, para nelayan atau lamafa mempersiapkan segala sesuatu dengan penuh kehati-hatian.
Mereka menggunakan paledang, perahu kayu tradisional tanpa mesin, serta tempuling, tombak atau harpun tradisional yang menjadi senjata utama dalam perburuan.
Namun, paledang dan tempuling bukan sekadar alat kerja. Keduanya merupakan simbol hubungan erat antara manusia, alam, dan leluhur yang telah diwariskan lintas generasi.
Karena itu, setiap musim berburu selalu diawali dengan berbagai ritual adat, mulai dari doa bersama, nyanyian tradisional, hingga pemberian sesaji.
Semua dilakukan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan dan hasil tangkapan yang cukup.
Berbeda dengan anggapan bahwa semua paus dapat diburu, masyarakat Lamalera memiliki aturan adat yang sangat ketat.
Mereka hanya diperbolehkan memburu paus sperma (Physeter macrocephalus). Sementara itu, paus biru, paus yang sedang bunting, maupun anak paus sama sekali tidak boleh disentuh.
Larangan tersebut telah diwariskan sejak lama sebagai bentuk penghormatan terhadap keseimbangan alam.
Kearifan ini menunjukkan bahwa masyarakat Lamalera memahami pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya laut jauh sebelum konsep konservasi modern dikenal luas.