KLIK SAJA - Di ujung selatan Provinsi Maluku, berdiri sebuah kota kecil yang menyimpan cerita besar tentang sejarah, budaya, laut, hingga masa depan Indonesia Timur.
Namanya Saumlaki, sebuah kelurahan yang sekaligus menjadi ibu kota Kabupaten Kepulauan Tanimbar, tepatnya berada di Kecamatan Tanimbar Selatan, Pulau Yamdena.
Sekilas, Saumlaki tampak tenang. Jalan utamanya sederhana, diapit deretan toko-toko tua milik warga keturunan Tionghoa yang menjadi denyut perdagangan masyarakat setempat.
Namun di balik ketenangannya, kota kecil ini menyimpan jejak sejarah panjang yang jarang diketahui banyak orang.
Pengaruh misionaris Katolik di Kepulauan Tanimbar sudah terasa sejak tahun 1629. Warisan itu masih hidup hingga kini melalui budaya, pendidikan, dan kehidupan masyarakatnya yang religius dan hangat.
Tetapi Saumlaki bukan hanya tentang spiritualitas. Kota ini juga pernah menjadi saksi pertempuran heroik pada masa Perang Dunia II.
Pada akhir tahun 1942, setelah Jepang membombardir Darwin di Australia, armada perang Jepang bergerak menuju wilayah Maluku.
Sebelumnya, Belanda telah menempatkan 13 pasukan KNIL di Saumlaki di bawah komando Sersan Julius Tahija.
Tanggal 30 Juli dini hari, kapal-kapal perang Jepang mulai memasuki Teluk Saumlaki. Sebelum pasukan Jepang mendarat, mereka disambut rentetan tembakan dari dua senapan mesin MG milik pasukan Julius.
Serangan mendadak itu membuat Jepang kocar-kacir dan mengalami banyak korban. Delapan prajurit gugur, namun keberanian mereka berhasil menahan gempuran pasukan yang jauh lebih besar.
Setelah pertempuran tersebut, Julius Tahija bersama pasukan yang tersisa berlayar menuju Pulau Bathurst di Australia dan kemudian bergabung dengan pasukan khusus Australia, Z Forces.
Julius Tahija lalu dikenal sebagai pahlawan perang di Australia dan menerima penghargaan tertinggi Kerajaan Belanda, Ridders der Militaire Willems-Orde.
Sayangnya, kisah heroik 13 pasukan Indonesia yang mempertahankan Saumlaki itu nyaris terlupakan. Hingga kini belum ada monumen besar yang mengabadikan perjuangan mereka di tanah Tanimbar.
Gerbang Selatan Maluku