Kini, Saumlaki terus berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan di Indonesia Timur. Untuk mencapai kota ini, wisatawan dapat menggunakan penerbangan komersial dari Bandara Pattimura Ambon menuju Bandara Mathilda Batlayeri.
Bandara modern ini memiliki terminal seluas 1.440 meter persegi dan mampu menampung sekitar 150 penumpang.
Selain itu, tersedia pula penerbangan perintis dengan rute Saumlaki–Moa dan Saumlaki–Larat untuk menunjang konektivitas antarpulau di Kepulauan Tanimbar.
Kita pun dapat mengakses Saumlaki dengan rute kapal perintis KM Sabuk Nusantara yang rutin menyambangi Pelabuhan setiap minggunya baik dari arah Ambon maupun dari Nusa Tenggara Timur.
Kehidupan ekonomi kota mulai bergerak semakin cepat, terutama sejak rencana pembangunan Kilang Darat Blok Masela oleh Inpex Masela Ltd mencuat dalam beberapa tahun terakhir.
Kehadiran proyek besar tersebut membawa optimisme baru bagi masyarakat. Toko, hotel, restoran, hingga villa mulai bermunculan di pusat kota.
Saumlaki juga memiliki sejumlah pusat perdagangan penting seperti Pasar Lama Olilit, Pasar Omele Sifnana, dan Saumlaki Town Square atau SATOS. Aktivitas perdagangan laut menjadi denyut utama ekonomi masyarakat pesisir.
Sebagai wilayah kepulauan, Saumlaki dianugerahi kekayaan laut yang melimpah. Perairannya menjadi sumber kehidupan bagi nelayan lokal sekaligus jalur pelayaran penting.
Pelabuhan Saumlaki bahkan kerap disinggahi kapal-kapal layar dari Australia dalam kegiatan tahunan Sail Darwin–Saumlaki.
Event internasional ini menjadi ajang persahabatan maritim yang mempertemukan masyarakat Tanimbar dengan pelaut dari berbagai negara.
Biasanya para peserta singgah di pantai-pantai sekitar Saumlaki dan mengunjungi desa-desa budaya, salah satunya Desa Tumbur.
Tumbur, Desa Seni yang Menjaga Tradisi
Di Desa Tumbur, seni bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir semua perempuan di desa ini mampu menenun kain tradisional Tanimbar.
Kemampuan itu diwariskan turun-temurun sejak mereka masih duduk di bangku SMP atau SMA.