Selain itu, tulisan-tulisan yang terukir pada gerbang dan dinding benteng menggunakan bahasa Melayu, mencerminkan lingua franca yang digunakan di kawasan ini pada masa itu.
Dalam catatan VOC pada akhir abad ke-18, tepatnya sekitar tahun 1790-an, benteng ini juga sempat disebut sebagai Benteng Alting, diambil dari nama seorang pejabat VOC yang memimpin antara tahun 1780 hingga 1797.
Kini, Benteng De Verwachting tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga simbol perjalanan panjang interaksi budaya, kekuasaan, dan masyarakat di Kepulauan Sula.
Berkunjung ke tempat ini seakan membawa kita menelusuri kembali jejak masa lalu yang membentuk wajah daerah tersebut hingga hari ini.***