KLIK SAJA - Tepat di jantung Kota Sanana, persisnya di seberang pelabuhan yang menjadi nadi aktivitas masyarakat, berdiri sebuah saksi bisu perjalanan sejarah panjang Kepulauan Sula: Benteng De Verwachting.
Lokasinya yang strategis di Kelurahan Sanana, Kecamatan Sanana Utara, Pulau Sulabesi, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, membuat benteng ini mudah dijangkau sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menarik untuk dikunjungi.
Benteng De Verwachting memiliki luas sekitar 2.750 meter persegi. Struktur bangunannya cukup kokoh dengan empat bastion di setiap sudut dan dua menara pengintai yang dulunya berfungsi sebagai titik pengawasan.
Dinding benteng setinggi kurang lebih empat meter memperlihatkan karakter pertahanan khas bangunan kolonial.
Di dalam area benteng, terdapat dua bangunan penunjang yang kini dimanfaatkan sebagai Kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Sula. Meski telah mengalami renovasi, jejak sejarahnya masih terasa kuat di setiap sudut.
Sejarah benteng ini bermula pada tahun 1623, ketika masyarakat Ternate diperkirakan membangun sebuah benteng kecil bernama Het Klaverblad.
Baca Juga: Benteng Kastela: Jejak Keberanian Rakyat Ternate Melawan Penjajahan
Namun, catatan tertulis mengenai benteng tersebut baru muncul pada tahun 1688, yang menyebut keberadaannya di Pulau Sanana, bagian dari Kepulauan Sula.
Perkembangan penting terjadi pada 24 Desember 1736, di masa pemerintahan Sultan Ternate ke-14, Amir Iskandar Zulkarnain Saifuddin.
Pada masa inilah benteng Het Klaverblad diperbarui dan diberi nama baru: De Verwachting, yang berarti “harapan.”
Sultan yang juga dikenal dengan julukan Raja Laut atau Kaicil Sehe ini merupakan sosok penting dalam sejarah Ternate, lahir pada tahun 1680 dan memimpin pada periode yang penuh dinamika.
Proses pemugaran benteng dilakukan di bawah pengawasan seorang opsir VOC bernama Victor Moll.
Menariknya, pembangunan ini melibatkan tenaga kerja dari masyarakat Ternate. Mereka tidak hanya membangun, tetapi juga memberikan sentuhan seni dengan memahat dinding benteng menggunakan ornamen khas Ternate.
Hal ini terlihat dari detail hiasan yang masih dapat dijumpai hingga sekarang.