KLIK SAJA – Terletak di sudut barat daya Pulau Ternate, Maluku Utara, berdiri sebuah situs sejarah yang menyimpan kisah heroik rakyat Ternate melawan penjajahan.
Benteng Kastela, atau yang dikenal juga sebagai Kastella, adalah saksi bisu perlawanan panjang rakyat Ternate terhadap penjajahan Portugis.
Frase kata ‘Kastela’ sebenarnya hanya penyebutan awal saja dari masyarakat sekitar dimana kata ‘Kastela’ yang juga bermakna ‘benteng’.
Hal ini dikarenakan benteng ini, merupakan salah satu yang paling awal di Ternate.
Meski kini hanya tersisa puing-puing, semangat perjuangan yang lahir dari tempat ini tetap membara dalam memori kolektif masyarakat.
Terletak di Kelurahan Kastela, Kecamatan Pulau Ternate, benteng ini awalnya dibangun oleh Portugis pada tahun 1522 dan diberi nama Nostra Senhora de Rosario (Wanita Cantik Berkalung Mawar).
Benteng ini kemudian dikenal pula dengan berbagai nama seperti São João Batista, Ciudad del Rosario, hingga Gam Lamo dalam bahasa lokal, yang berarti “kampung besar”.
Dibangun selama 20 tahun, Benteng Kastela dulunya memiliki luas sekitar 2.724 meter persegi.
Namun kini, hanya sebagian kecil yang masih tersisa, di tengah pemukiman warga yang tumbuh mengelilinginya.
Pemerintah telah melakukan pemugaran dan menjadikannya taman sejarah, meski bentuk asli benteng sudah tidak utuh.
Benteng ini menjadi simbol penting dalam sejarah perlawanan rakyat Ternate.
Pada 27 Februari 1570, Sultan Khairun dari Ternate dibunuh secara licik di dalam benteng oleh Portugis, atas perintah Gubernur Diego Lopez de Mesquita.
Peristiwa ini menyulut amarah rakyat Ternate, dan dipimpin oleh putra Sultan Khairun, Sultan Baabullah, rakyat Ternate bangkit melawan.