Untuk menghasilkan selembar kain, dibutuhkan waktu hingga tiga bulan, bahkan lebih, tergantung tingkat kerumitan motif.
Prosesnya dimulai dari Ma’unnus: mengurai benang sutra dari kepompong , kemudian Ma’tiqqor: memintal benang hingga Macingga: mewarnai benang
Sebagian perajin masih menggunakan pewarna alami, seperti kulit bakau dan kelapa bertunas. Kain dengan pewarna alami memerlukan perawatan khusus—tidak boleh dicuci dengan deterjen, cukup direndam air lalu dikeringkan.
Tahap berikutnya meliputi: Manggalenrong: melilit benang pada kaleng . Lalu kemudian Sumau’: mengatur benang untuk membentuk pola dan Manette: proses menenun menggunakan alat tradisional parewa tandayang.
Baca Juga: Mengenal Mewahnya Kerajinan Kain Sulam Kasab Khas Aceh Besar
Tahap menenun ini bisa berlangsung dari dua minggu hingga berbulan-bulan.
Dengan proses yang panjang dan penuh ketelitian, tidak heran jika harga lipa saqbe tergolong tinggi.
Di pasaran, kain ini dijual mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung bahan dan kerumitan motifnya.
Lipa saqbe memiliki beragam motif yang dikenal dengan istilah “sure’”, di antaranya: Sure’ penghulu, Sure’ mara’dia, Sure’ puang limboro, Sure’ puang lembang , Sure’ batu dadzima, Sure’ padzadza, Sure’ salaka, Sure’ gattung layar, Sure’ penja, Sure’ bandera dan Sure’ beru-beru
Secara umum, kain ini tampil dengan warna-warna cerah seperti kuning, merah, hijau, biru, putih, dan cokelat yang semakin menegaskan keindahannya.
Lipa saqbe bukan sekadar kain tradisional, melainkan warisan budaya yang sarat makna, nilai sejarah, dan keindahan.
Di tengah arus modernisasi, keberadaannya menjadi pengingat akan kekayaan budaya Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan.***