wisata

Mengenal Manre Sipulung, Tradisi Makan Bersama Khas Bugis yang Sarat Nilai Kekeluargaan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:55 WIB
Tradisi Manre Sipulung (Blogger)

KLIK SAJA - Manre Sipulung atau makan sipulung adalah tradisi adat khas suku Bugis yang bermakna makan bersama.

Tradisi ini telah lama dijalankan oleh masyarakat Muslim Bugis perantauan sebagai bagian dari kehidupan sosial dan keagamaan mereka.

Di sejumlah daerah rantau suku Bugis, seperti Kecamatan Segedong, Mempawah, Kalimantan Barat, makan sipulung identik dengan kegiatan menyantap hidangan secara beramai-ramai di tepi sawah atau ladang.

Walau Kalimantan Barat bukanlah daerah asli Suku Bugis, mereka tetap menjalankan tradisi ini.

Sementara di Sulawesi Selatan, acara Manre Sipulung kerap diadakan pemerintah daerah setempat sebagai agenda tahunan.

Lauk-pauk ditata di atas daun pisang, disesuaikan dengan jumlah warga yang hadir. Suasana sederhana inilah yang justru menghadirkan kehangatan dan kebersamaan.

Tradisi ini seakan menjadi kewajiban tak tertulis yang diwariskan turun-temurun, terutama sebagai ungkapan rasa syukur setelah masa panen padi.

Dalam sejumlah kitab peninggalan ulama, makan sipulung juga disebut sebagai tradisi kebersamaan untuk menandai peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan masyarakat.

Kebersamaan dalam Tradisi Makan Sipulung

Makan sipulung bukan sekadar kegiatan makan bersama, melainkan simbol kuat persatuan dan gotong royong. Hidangan yang disajikan dapat dinikmati oleh semua kalangan—orang tua, pemuda, hingga anak-anak—tanpa memandang status sosial.

Tidak ada perbedaan menu antara rakyat biasa, tokoh masyarakat, maupun pemuka adat. Semua duduk sejajar.

Makanan disantap langsung dengan tangan, tanpa sendok. Warga duduk bersila saling berhadapan tanpa meja pembatas, menciptakan suasana akrab dan setara.

Sebelum mulai makan, seluruh hadirin terlebih dahulu berdoa bersama, biasanya dipimpin oleh tokoh agama setempat, memohon keselamatan dan dijauhkan dari segala musibah.

Persiapan makan sipulung pun dilakukan secara kolektif. Jauh hari sebelumnya, warga bergotong royong mengumpulkan dana untuk menyiapkan hidangan.

Halaman:

Tags

Terkini