Di Sumatra Utara, pakat tergolong sebagai kuliner musiman. Makanan tradisional ini paling mudah ditemukan saat bulan Ramadan, ketika banyak pedagang menjajakan pakat sebagai menu takjil untuk berbuka puasa.
Meski sebenarnya bisa ditemukan di luar bulan Ramadan, keberadaan penjual pakat memang jauh lebih banyak saat bulan suci tersebut.
Baca Juga: Puding Moin-Moin: Takjil Bergizi Khas Nigeria untuk Berbuka Puasa, Lengkap Resep dan Cara Membuatnya
Banyak orang memburu pakat karena diyakini dapat menambah nafsu makan setelah seharian berpuasa.
Selain lezat dan unik, pakat juga dipercaya memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Secara turun-temurun, makanan ini diyakini dapat membantu mengatasi sejumlah penyakit, seperti diabetes, malaria, hingga hipertensi.
Tak hanya sebagai santapan harian, pakat juga kerap disajikan dalam acara-acara khusus masyarakat Mandailing dan sekitarnya.
Kehadirannya menjadi simbol kearifan lokal yang memanfaatkan alam sekitar sekaligus menjaga tradisi leluhur.
Pakat bukan sekadar makanan, melainkan cerminan budaya dan cara hidup masyarakat Mandailing yang terus bertahan dan diwariskan hingga kini.***