wisata

Mengenal Tradisi Ruwahan Pada Masyarakat Jawa Saat Sambut Bulan Suci Ramadan

Kamis, 5 Februari 2026 | 21:30 WIB
Tradisi Ruwahan di Bantul (Desa Caturharjo Bantul)

KLIK SAJA - Masyarakat Jawa memiliki sebuah tradisi dalam menyambut bulan suci Ramadan yang dikenal dengan ruwahan.

Nama tradisi ini berasal dari bahasa Arab arwāḥ yang berarti arwah. Ruwahan umumnya dilaksanakan setahun sekali pada pertengahan bulan Syakban, sebagai bentuk persiapan spiritual menjelang Ramadan.

Sejumlah sejarawan Islam di Jawa berpendapat bahwa tradisi ruwahan memiliki keterkaitan dengan tradisi serupa yang telah lama dilakukan masyarakat di Yaman pada waktu yang sama setiap tahunnya.

Di Indonesia sendiri, ruwahan telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan dipandang sebagai warisan budaya yang terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat.

Lantas, bagaimana asal-usul keberlangsungan tradisi ruwahan? Apa saja rangkaian acaranya, tujuan, nilai moral yang terkandung, serta bagaimana pandangannya dalam Islam? Berikut ulasan lengkapnya.

Di tanah Jawa, ruwahan juga dikenal dengan istilah “ngluru arwah”. Secara harfiah, kata ngluru dalam bahasa Jawa berarti mencari sesuatu dengan posisi membungkuk. Namun, dalam konteks budaya Jawa, sikap membungkuk merupakan simbol penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Dari makna tersebut, dapat dipahami bahwa ruwahan atau ngluru arwah adalah tradisi menghormati leluhur dan nenek moyang dengan cara mendoakan mereka.

Doa-doa yang dipanjatkan diharapkan dapat menjadi perantara ampunan dosa serta kebaikan bagi arwah kerabat yang telah meninggal dunia.

Tradisi ruwahan tidak hanya berisi doa semata, tetapi juga memiliki rangkaian acara yang terstruktur dan sarat makna. Berikut beberapa kegiatan yang umumnya dilakukan dalam tradisi ruwahan:

Rangkaian acara diawali dengan membersihkan makam leluhur atau kerabat. Kegiatan ini meliputi meratakan tanah, mencabut rumput liar, mencuci batu nisan, dan diakhiri dengan menaburkan bunga sebagai simbol penghormatan.

Baca Juga: Ramadan di Lombok? Cicip Nasi Balap Puyung Untuk Berbuka Puasa, Sajian Sederhana Menggugah Selera

Setelah makam dibersihkan, acara dilanjutkan dengan doa bersama. Bacaan doa biasanya berupa kalimat-kalimat thayyibah, seperti shalawat Nabi, istighfar, tahmid, tahlil, tasbih, serta pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Sebagai penutup, masyarakat mengadakan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur atas terlaksananya tradisi ruwahan. Makan bersama ini dapat dilakukan di area makam maupun setelah kembali ke rumah.

Meski tidak bersifat wajib, hidangan seperti ketan, apem, dan kolak hampir selalu hadir dalam tradisi ini.

Halaman:

Tags

Terkini