Banyak suku di Sahara menjalani kehidupan nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Suku Tuareg adalah salah satu kelompok nomaden paling terkenal, namun mereka bukan satu-satunya; ada juga suku Toubou dan Moor.
Hamparan Sahara didominasi pasir dan debu sejauh mata memandang. Sesekali, terlihat oasis—sepetak wilayah dengan tumbuhan dan hewan yang berkembang, menjadi tempat istirahat bernilai tinggi bagi para pelintas serta menjadi rumah bagi suku-suku yang menetap.
Masyarakat di kawasan oasis biasanya menanam pohon kurma yang kuat di sekelilingnya untuk melindungi sumber air dan tanaman mereka dari angin gurun dan badai pasir.
Sahara memiliki sekitar 90 oasis besar yang mendapat suplai air dari sumber bawah tanah.
Suhu di Sahara pada siang hari dapat mencapai tingkat yang sangat tinggi, sering kali melebihi 120°F (49°C).
Namun pada malam hari, suhunya dapat turun drastis, bahkan terkadang mencapai titik beku selama bulan-bulan musim dingin seperti Januari atau Februari.
Perubahan suhu ekstrem ini menjadikan Sahara sebagai lingkungan yang sangat menantang bagi manusia.
Untuk menghadapi panas, masyarakat Sahara mengenakan pakaian longgar. Cara ini membantu mengurangi penguapan keringat sehingga tidak cepat kehilangan cairan.
Mereka juga memakai kerudung dan penutup kepala untuk melindungi wajah dari angin gurun yang berdebu.
Bukan hanya suhu ekstrem dan angin keras yang membuat Sahara sulit dihuni—curah hujan di wilayah ini juga sangat sedikit, rata-rata hanya 3 hingga 5 inci (7,6 hingga 12,7 sentimeter) per tahun.
Akibatnya, sebagian besar wilayah tidak mampu mendukung vegetasi sehingga tidak layak untuk dihuni.
Inilah alasan banyak komunitas menetap di sekitar oasis, sementara suku-suku nomaden berpindah mengikuti musim dari satu daerah ke daerah lain.***