Dari proses pemindahan makam itulah muncul gagasan untuk membangun Omah Balung, sebagai tempat menyimpan kerangka yang tidak teridentifikasi.
Menariknya, di pemakaman ini dikenal dua jenis makam: makam tetap dan makam sewa kontrak.
Makam kontrak hanya disewa dalam jangka waktu tertentu.
Jika masa sewanya habis atau ahli waris tak lagi mampu membayar, tulang belulang penghuni makam dipindahkan ke rumah tulang (charnelhuiz) yang dibangun di area pemakaman.
Omah Balung dibangun dengan gaya arsitektur klasik Yunani Dorian.
Pilar-pilar tinggi di bagian depan memberi kesan megah, meski kini dindingnya dipenuhi lumut, kerak hitam, dan semak-semak yang merambat di bagian atas, seolah menambah kesan menyeramkan
Begitu masuk, tampak sebuah ruangan berukuran sekitar 2 x 4 meter, tempat tulang-belulang dari makam kontrak disimpan rapi.
Antara Mistis dan Estetika
Meski nuansa menyeramkan terasa kental, Omah Balung justru menyimpan daya tarik tersendiri.
Kerap fotografer menjadikan bangunan ini latar karya mereka, memadukan kesan klasik nan angker dengan kecantikan model yang berpose di depannya.
Hasilnya adalah potret yang tak hanya artistik, tetapi juga sarat makna sejarah.
Omah Balung bukan sekadar bangunan tua di tengah pemakaman.
Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah Surabaya, sebuah warisan kolonial yang kini berpadu dengan kisah-kisah mistis dan daya tarik visual, menjadikannya salah satu ikon unik di kawasan Peneleh.***