wisata

Sejarah Mengapa Kuliner Solo dan Yogya Bercitarasa Manis

Rabu, 10 September 2025 | 23:06 WIB
Sajian Gudeg yang terkenal bercitarasa manis (indonesia kaya)

Namun, pelaksanaan tanam paksa jauh melenceng dari aturan semula. Lahan yang dipakai kerap melebihi 20% dari total tanah garapan, bahkan kelebihan panen pun tetap diambil oleh pemerintah Belanda.

 Petani dipaksa menanggung pajak, risiko gagal panen, hingga kerugian besar karena harga hasil pertanian dimonopoli dengan nilai sangat rendah.

Meski rakyat menderita, industri gula justru berkembang pesat.

Indonesia sempat dijuluki “Raja Gula” dengan produksi mencapai 3 juta ton per tahun, menjadikannya eksportir terbesar kedua dunia setelah Kuba.

Lembaga penelitian gula bermunculan, dan pabrik gula menjamur hingga mencapai 179 unit di berbagai daerah.

Daerah Vorstenlanden seperti Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran atau Solo dan Kesultanan Yogyakarta, menjadi kaya mendadak karena industri gula yang dikelolanya.

Namun, di balik gemerlap industri ini, kehidupan masyarakat justru makin sengsara.

Lahan untuk menanam padi dan jagung hampir tak tersisa. Untuk sekadar menahan lapar, banyak warga terbiasa meminum air tebu dan memakan apa adanya.

Keterlibatan panjang masyarakat Jawa dalam industri gula dan kebiasaan mengonsumsinya lambat laun membentuk tradisi kuliner manis yang bertahan hingga kini.

Menurut Jurnal Jantra, budaya Jawa sangat lekat dengan jajan pasar, di mana sebagian besar merupakan makanan manis berbahan dasar gula.

Lebih dari sekadar cita rasa, gula kemudian menjadi simbol kebahagiaan, kemakmuran, kedermawanan, hingga perayaan.

Daerah Solo dan Yogya yang merupakan pusat gula Jawa di masa lalu, menjadi sentral pengembangan kuliner bercitarasa manis hingga kini.

Tidak mengherankan jika gula begitu melekat dalam keseharian masyarakat Jawa.

Hampir semua makanan—mulai dari lauk-pauk, makanan pokok seperti nasi, hingga camilan dan jajanan pasar—mengandung gula dalam berbagai bentuknya.

Jejak sejarah tanam paksa dan industri gula kolonial inilah yang menjelaskan mengapa kuliner Jawa, bahkan Indonesia pada umumnya, kaya dengan cita rasa manis yang hingga kini tetap menjadi ciri khas dan identitas kuliner Nusantara.***

Halaman:

Tags

Terkini