Namun kini, aturan telah diperlonggar sehingga masyarakat umum yang memiliki kuda pun dapat ikut serta.
Pada perlombaan, peserta dituntut tidak hanya piawai menunggang kuda, tetapi juga terampil melontarkan tombak ke arah ember berisi air yang digantung tinggi dengan cincin.
Tantangannya adalah melempar tepat sasaran tanpa menumpahkan air di dalam ember.
Jika berhasil, peserta dinyatakan sebagai pemenang. Namun, sering kali tombak meleset dan mengenai ember, membuat penunggang kuda basah kuyup, disambut sorak-sorai penonton yang memeriahkan suasana.
Saptonan bukan sekadar lomba, melainkan tradisi sarat nilai budaya dan seni yang menarik minat wisatawan lokal.
Dengan kemasan atraktif, tradisi ini berpotensi dipromosikan hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Jika dikelola dengan baik, Saptonan dapat menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan wisatawan mancanegara sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat Kuningan.
Maka lebih dari itu, keberlanjutan Saptonan juga menjadi upaya penting dalam melestarikan warisan budaya tradisional bagi generasi muda.***