Mengenal Tradisi Saptonan, Simbol Heroisme Sambil Berkuda ala Warga Kuningan

photo author
Satria Widiatiaga, Klik Saja
- Senin, 8 September 2025 | 21:50 WIB
Peserta Saptonan membidik target (setda humas Kuningan)
Peserta Saptonan membidik target (setda humas Kuningan)

KLIK SAJA - Kota Kuningan lama dikenal memiliki ragam kebudayaan tradisional yang masih lestari hingga kini.

Salah satu yang paling menarik adalah tradisi Saptonan, yakni ajang ketangkasan melempar tombak ke dalam lingkaran sambil menunggang kuda.

Tradisi ini biasanya digelar setahun sekali untuk menyambut Hari Jadi Kota Kuningan, sekaligus menjadi simbol heroisme, kebersamaan, dan semangat membela negara.

Sejarah Saptonan berawal dari masa Kerajaan Kajane. Saat itu, para demang (kepala desa) dan ponggawa menampilkan atraksi saptonan dalam upacara kerajaan sebagai bentuk ketaatan dan penghormatan kepada raja.

Persembahan tersebut juga dimaknai sebagai simbol kemakmuran bagi seluruh rakyat Kuningan.

Hingga kini, makna filosofis itu tetap hidup dan diwariskan melalui pertunjukan yang sarat nilai budaya.

Setiap pagelaran Saptonan selalu menampilkan suasana tradisional yang kental.

Parade keprajuritan, atraksi seni dari tiap kademangan, ketangkasan berkuda, hingga panahan tradisional ditampilkan dengan meriah.

Baca Juga: Mengenal Jemparingan, Olahraga Panahan Tradisional Khas Mataram Sambil Duduk Bersila

Acara biasanya diawali dengan bunyi Goong Renteng, dilanjutkan tari persembahan, panahan, pembacaan ringkasan sapton, dan doa bersama.

Para tokoh kerajaan seperti Adipati (bupati), Patih (wakil bupati), Mantri Jero (sekda), hingga Tumenggung (camat) turut dihadirkan kembali dalam bentuk teatrikal dengan busana kerajaan.

Setelah parade berlangsung, tiap kawedanan menyerahkan simbol tombak dan panahan kepada peserta.

Hingga puncaknya, FORKOMPIMDA (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) ikut serta dalam panahan tradisional sebagai tanda dimulainya kejuaraan ketangkasan berkuda.

Pada jaman dahulu, hanya kepala desa yang boleh mengikuti perlombaan ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Satria Widiatiaga

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Rekomendasi

Terkini

X